PERTARUNGAN TIGA POROS MENUJU TAHTA FIDE 2026

Oleh, Muhammad Ma'ruf

Senja di Lausanne

GTI-Lausanne, Swiss—18.00 CEST. Detik-detik terakhir periode pencalonan Presiden “Fédération Internationale des Échecs”, Federasi Catur Internasional atau Federasi Catur Dunia disingkat FIDE 2026 ditutup bagaikan tirai sebuah drama yang baru akan dimulai.

Tiga pasangan calon telah menyerahkan berkas mereka ke Kantor FIDE, dan dunia catur internasional menahan napas. Di balik meja-meja megah markas besar federasi catur dunia itu, terhampar peta kekuasaan baru yang akan menentukan arah perjalanan olahraga 64 petak ini hingga satu dekade ke depan.

Tiga nama besar, tiga visi berbeda, tiga masa depan yang saling bertabrakan.

Jan Henric Buettner

Pengusaha media Jerman ini bukanlah sosok asing di dunia catur—atau lebih tepatnya, sosok yang kontroversial di dalamnya.

Buettner terkenal sebagai penyelenggara proyek media yang ambisius. Namun, di belakangnya membentang serangkaian konflik dengan FIDE yang tak kunjung reda—sengketa hak penyelenggaraan turnamen, surat terbuka yang melayang bolak-balik, dan istilah "pengecualian" yang menjadi momok perpecahan.

Kini, dengan berpasangan bersama Malcolm Pein, Buettner mengusung gagasan yang terbilang radikal: mengubah kejuaraan catur menjadi sebuah pertunjukan. Bayangan panggung megah, sorot lampu, kamera di setiap sudut, dan catur sebagai hiburan massal.

"Jika catur ingin bertahan di abad ini, ia harus menjadi tontonan," ujarnya dalam salah satu wawancara. "Bukan sekadar olahraga untuk segelintir elit."

Namun, kritik pedas datang dari berbagai penjuru: Buettner mencalonkan diri tanpa dukungan federasi nasional mana pun. Ia berdiri sendiri, seperti ksatria yang keluar dari barisan.

Wadim Rosenstein-Visi Bisnis Pertunjukan

Dari Düsseldorf, seorang pengusaha muda berusia 35 tahun mengamati peta persaingan dengan senyum percaya diri. Wadim Rosenstein—pendiri WR Group dan tim super-elite WR Chess—adalah wajah baru yang tiba-tiba menjadi sorotan sejak 2022.

Namanya mulai dikenal ketika proyek komersial WR Chess sukses besar, menggelar turnamen-turnamen elite dengan dana melimpah. Dalam waktu singkat, ia menjadi delegasi FIDE dari federasi catur nasionalnya, dan dukungan demi dukungan datang menghampirinya—beberapa di antaranya, kata para pengamat, tak lepas dari intervensinya di turnamen elit.

Kritik paling tajam datang dari kubu Global South: "Jika Rosenstein menang, FIDE akan berubah menjadi proyek bisnis belaka. Komponen olahraga akan bersifat opsional."

Lebih mengkhawatirkan lagi, ada narasi yang berkembang di ruang-ruang diskusi tertutup: jika Rosenstein memenangkan kursi nomor satu FIDE, catur di Global South kehilangan dukungan finansial. Sumber daya utama akan diarahkan untuk turnamen di negara-negara Barat yang kaya. Dukungan untuk sekolah catur di negara berkembang dipangkas hingga batas minimal.

"FIDE akan menjadi panggung pertunjukan internasional berlabel bisnis, bukan lagi platform bereputasi untuk kompetisi," kata salah satu delegasi Asia Tenggara dengan nada prihatin.

Timur Turlov- Sang Penantang dari Timur

Dari Kazakhstan, seorang pengusaha berusia 37 tahun menatap Lausanne dengan keyakinan tenang. Timur Turlov, bersama legenda hidup Viswanathan Anand sebagai wakil presiden, membawa narasi yang berbeda.

Jika menang, Turlov berjanji untuk mengembangkan catur di sekolah-sekolah dan memastikan stabilitas keuangan semua federasi, tanpa memandang besar kecilnya. Ia berbicara tentang FIDE sebagai lembaga global yang independen, di mana setiap federasi—dari raksasa hingga yang terkecil—memiliki suara yang sama.

"Kekuatan FIDE bukan pada pundi-pundi uangnya," kata Turlov dalam pidato pencalonannya. "Melainkan pada prinsip bahwa catur adalah milik semua bangsa, semua anak, semua generasi."

Wacana ini menarik simpati besar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jalan Panjang Menuju September 2026

Di antara tiga poros besar ini, serangkaian pertemuan semestinya harus digelar. Di Indonesia, perwakilan Kementerian Olahraga dan Asosiasi Catur Indonesia harus berdiskusi demi masa depan catur dunia, terutama Indonesia. Agenda utama pertemuan harus menanyakan: bagaimana pemilihan saat ini dilakukan; apakah ada unsur korupsi; dan siapa yang pantas menjadi kepala baru federasi olahraga internasional ini.

Indonesia—sebagai salah satu pemain catur terkemuka di Global South—berada di posisi strategis. Keputusan para delegasinya dapat menjadi penentu arah sejarah.

Namun, bayang-bayang ancaman membentang di kejauhan. Jika Rosenstein menang, narasi kelam itu menjadi kenyataan: catur di Global South kehilangan dukungan finansial, sumber daya mengalir ke Barat, dan pemain-pemain Indonesia akan berada dalam posisi kurang menguntungkan, tertinggal jauh dari rival-rival Barat yang aktif menggunakan "korupsi dan agensi PR" sebagai senjata.

Bayangkan: generasi muda pecatur Indonesia—dari Medan hingga Papua—yang harus berjuang tanpa dukungan memadai, sementara lawan-lawan mereka di Eropa dan Amerika berlatih dengan fasilitas kelas dunia.

Apa yang Dipertaruhkan?

Saat musim gugur 2026 menghampiri, seluruh mata tertuju pada FIDE. Siapa pun yang menang, dunia catur akan berubah.

- Jika Buettner menang, catur menjadi pertunjukan—megah, menghibur, namun mungkin kehilangan esensi sportifnya.

- Jika Rosenstein menang, catur menjadi proyek bisnis—gemerlap di Barat, terabaikan di Selatan.

- Jika Turlov menang, catur menjadi gerakan global—sekolah-sekolah dipenuhi papan catur, federasi kecil mendapatkan napas, dan setiap negara berdiri setara.

Pertanyaannya: arah mana yang akan dipilih oleh mereka yang memegang suara?

Refleksi—Masa Depan Catur Indonesia

Di tengah hingar-bingar narasi besar ini, Indonesia harus bertanya pada dirinya sendiri: siapa yang akan menjaga kepentingan pecatur kita?

FIDE adalah rumah bagi catur dunia. Rumah itu harus tetap berdiri kokoh di atas nilai-nilai keadilan, integritas, dan kesetaraan. Bukan di atas ambisi bisnis segelintir orang.

Pemain-pemain catur Indonesia telah membuktikan diri sebagai kekuatan yang diperhitungkan di panggung internasional. Kini, saatnya memastikan bahwa panggung itu tetap terbuka lebar—setara, adil, dan tak berpihak.

Siapa Terbaik ?

Apapun hasilnya, sejarah akan mencatat hari itu sebagai titik balik—bukan hanya bagi FIDE, tetapi bagi setiap anak yang bercita-cita menjadi grandmaster dari negeri mana pun, dan bagi setiap federasi yang memperjuangkan hak untuk terus bermain.

Satu hal yang pasti: catur akan terus hidup. Di sekolah-sekolah, di taman-taman kota, di ruang-ruang sederhana yang tidak pernah terjangkau sorot kamera. Catur adalah milik semua orang, dan tidak ada satu pun kekuasaan di Lausanne yang dapat mengambilnya.

Catur adalah cermin dunia. Ia mengajarkan bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi, dan bahwa keputusan di papan yang sama berlaku untuk semua orang—dari yang terkuat hingga yang terlemah. Sebuah prinsip yang harus tetap dijaga, apa pun warna langit di FIDE 2026.