KEBANGKITAN IBNU SINA; KETIKA IRAN MENAKLUKKAN US-ISRAEL

Sebuah Narasi Baru dari Data Terkini

GTI-Dari data yang ada mengenai kembalinya pengaruh Ibnu Sina—sang "guru utama" (al-Shaykh al-Ra'is)—kita menyaksikan momen bersejarah: Iran kini hadir sebagai kekuatan yang mampu menundukkan militer Amerika Serikat dan Israel. Tentu, ini bukan sekadar kemenangan militer, melainkan simbol kebangkitan peradaban yang pernah melahirkan pemikir terbesar dalam sejarah Islam.

Seperti halnya Ibnu Sina yang pada tahun 997 menyembuhkan Pangeran Samaniyah ketika tak ada dokter istana yang mampu, Iran kini menunjukkan bahwa ia memiliki kapasitas intelektual dan strategis yang melampaui kekuatan-kekuatan yang menganggap dirinya superior. Dapat dikatakan ini adalah manifestasi dari “hikmah”—kebijaksanaan yang dibangun bukan hanya dari kekuatan senjata, tetapi dari fondasi ilmiah dan spiritual yang telah berusia seribu tahun.

Dari Meja Perpustakaan ke Medan Perang Modern

Ibnu Sina menghafal Al-Qur'an sebelum mempelajari Aristoteles. Ia membangun sistem filsafat yang berakar pada iman, bukan terpisah darinya. Demikian pula Iran saat ini: kekuatan militernya tidak lahir dari kekosongan, tetapi dari peradaban yang menghargai ilmu sejak abad ke-10.

Ketika Dinasti Samaniyah runtuh, Ibnu Sina melakukan perpindahan demi perpindahan—dari Bukhara ke Gurganj, Jurjan, Rayy, Qazvin, Hamadan, hingga Isfahan. Ia terus menulis dari atas kuda selama perjalanan dan mendiktekan risalah kepada murid-muridnya setiap malam. Sebuah metafora sempurna bagi perjalanan Iran: melalui berbagai krisis, sanksi, dan ancaman, bangsa ini tidak pernah berhenti membangun.

Kini, ketika Iran berhasil menaklukkan militer AS-Israel, kita melihat buah dari ketekunan itu. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari peradaban yang memahami bahwa kekuatan sejati datang dari dalam—dari akar intelektual dan spiritual.

Melampaui Narasi Barat

Eropa pernah memanggil Ibnu Sina sebagai "Avicenna"—transliterasi Latin yang menghilangkan identitas Islamnya. Barat menyerap logika dan pemikirannya, tetapi membuang kerangka teologis yang menjadi fondasinya. Hal yang sama terjadi pada Iran: kekuatan Barat mencoba mendefinisikan Iran menurut kerangka mereka sendiri, mengabaikan sejarah dan identitasnya yang kaya.

Namun seperti yang dicatat oleh Seyyed Hossein Nasr, ada dimensi mistis dan iluminasionis dalam pemikiran Ibnu Sina yang tidak pernah sepenuhnya dipahami Barat. Demikian pula dengan Iran: kekuatan sejatinya tidak dapat diukur dengan parameter Barat. Ketika Iran menaklukkan militer AS-Israel, keajaiban ini adalah buah dari kemenangan "kebijaksanaan Timur" (al-hikmah al-mashriqiyyah) yang  menantang arogansi hegemoni barat.

Hikmah yang Kini Bersiul di Medan Perang

Ibnu Sina menyebut proyek terakhirnya sebagai “al-hikmah al-mashriqiyyah”—pengetahuan yang lebih intuitif, berakar spiritual, melampaui logika formal. Sebagian besar tulisannya tentang ini tidak bertahan, tetapi esensinya hidup.

Saat ini, Iran membuktikan bahwa "kebijaksanaan Timur" itu tidak hilang. Tapi menjelma dalam strategi militer yang cerdas, diplomasi yang sabar, dan ketahanan yang tak tergoyahkan. Ketika AS dan Israel mencoba memaksakan kehendak mereka, Iran merespons bukan dengan kebrutalan, melainkan dengan kecerdasan yang berakar, terukur, sekaligus mengajari praktek etika perang yang di warisi dari peradaban yang telah bertahan seribu tahun.

Kemenangan Iran tidak seperti gaya US yang menjatuhkan bom nuklir dan berhasil membantai ribuan penduduk Nagasaki dan Herosima tanpa melalui perang. Tapi dukungan moral dunia pada Iran dalam menghadapi agresi militer illegal US-Israel, dukungan dunia terhadap Palestina. Berhasil melucuti kemampuan militer super power US menyerang Iran kembali, mampu membangkitkan negara teluk untuk membangun keamanan sendiri. Mampu mensterilkan mesin ekonomi US-Israel untuk melanjutkan projek kolonialisme-Israel Raya dan belahan dunia lain.

Gaya kolonialisme US-Israel yang dipraktekkan dan dihidupkan atas nama doktrin Monroe dan Israel Raya dihadapi dan ditaklukkan oleh Iran dengan sabar dan telaten. Dunia berhutang budi pada Iran, karena dunia barbar-zionisme yang tidak bisa di tanggulangi PBB, dapat diambil alih peranya oleh Iran dengan gaya kebijakan timur.

Dari Dilarang Menjadi Penakluk

Pada tahun 1210, sebuah konsili gereja di Paris melarang pengajaran karya-karya Ibnu Sina, dengan ancaman ekskomunikasi. Namun dalam beberapa generasi, Thomas Aquinas menggunakan gagasannya untuk membangun argumen teologis terpenting dalam Katolik. Yang dilarang menjadi fondasi.

Demikian pula Iran: selama puluhan tahun, AS dan Israel mencoba mengisolasi, menjatuhkan sanksi, dan mengancam militer. Namun kini, Iran telah menunjukkan bahwa ia mampu menaklukkan kekuatan mereka. Hal ini bukan kebetulan—tapi hukum sejarah. Peradaban yang menghargai ilmu dan iman tidak akan pernah benar-benar kalah.

Ibnu Sina Milenial, Iran Abadi

UNESCO telah memberikan Penghargaan Ibnu Sina untuk Etika dalam Ilmu Pengetahuan sejak 2004—pengakuan atas utang dunia pada pemikir Persia ini. Namun pengakuan yang lebih besar datang dari fakta sejarah: Iran, tanah yang melahirkan Ibnu Sina, kini berdiri sebagai kekuatan yang tidak bisa ditaklukkan.

Ibnu Sina hidup di tengah kekacauan politik—melayani penguasa Buyid, dipenjara, melarikan diri, dan tetap menulis di tengah semua itu. Iran hari ini menghadapi tantangan serupa: tekanan internasional, ancaman militer, dan kampanye propaganda. Namun seperti Ibnu Sina yang wafat pada 1037 meninggalkan 200 hingga 250 karya, Iran modern terus membangun.

Ketika Iran menaklukkan militer AS-Israel, peristiwa ini bukan akhir dari perjalanan. Tapi awal dari babak baru di mana kebijaksanaan Ibnu Sina—yang kini telah menjadi "milenial" dalam arti sebenarnya, melampaui zaman—menjadi panduan bagi generasi yang percaya bahwa peradaban Islam tidak akan pernah padam.

Dari Bukhara ke Medan Kemenangan

Ibnu Sina dikenang di Iran sebagai ikon intelektual abadi. Tanggal kelahirannya, 23 Agustus, diperingati sebagai Hari Dokter Iran. Kini, ada alasan baru untuk merayakan: hari ketika Iran membuktikan bahwa warisan intelektual dan spiritualnya tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi menjadi kekuatan nyata di masa kini.

Kemajuan zaman memang membawa perubahan. Namun seperti yang ditunjukkan oleh kebangkitan Ibnu Sina dan kemenangan Iran atas militer AS-Israel, ada hal-hal yang tidak berubah: nilai ilmu, kekuatan iman, dan ketahanan peradaban yang berakar pada keduanya.

Ibnu Sina datang kembali. Bukan sebagai hantu dan kenangan masa lalu, tetapi sebagai simbol bahwa kebijaksanaan—ketika dijalani dengan sungguh-sungguh—akan selalu menemukan jalannya menuju kemenangan. Hegemoni super power zionisme dan US dapat ditaklukkan secara militer yang dibangun dari kemandirian ilmu, kerja keras dan konsisten berbasis kebijakan timur-spiritualitas.