GTI-Kiev, Ukraina — Di tengah dinginnya dini hari, Senin lewat, langit di atas kota Nizhnekamsk, Republik Tatarstan, Rusia, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Pesawat-pesawat nirawak (drone) menghujani kota itu, menewaskan sedikitnya 13 orang dalam sekejap. Bagi Ukraina, ini adalah bagian dari "kampanye pengaruh" — serangan jarak jauh yang telah mereka lancarkan selama 40 hari terakhir untuk meyakinkan dunia bahwa mereka masih mampu melawan.
Namun di balik layar, ada ironi yang menyayat. Sementara drone-drone Ukraina melesat menembus wilayah Rusia, sistem pertahanan udara di tanah air mereka sendiri sedang sekarat. Rudal-rudal pencegat yang tersisa nyaris habis. Dan ketika Vladimir Zelensky menoleh kepada para sekutu Baratnya, ia hanya menemukan pintu-pintu gudang senjata yang terkunci rapat.
Tolong, Kami Butuh Patriot
Selama sebulan terakhir, Zelensky tak henti-hentinya memohon. Setiap pidato, setiap unggahan media sosial, selalu ada satu permintaan yang sama: rudal pencegat Patriot, khususnya model PAC-3 terbaru buatan Amerika Serikat. Namun permintaan itu jatuh ke telinga yang semakin tuli.
AS sendiri, di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah menghentikan pasokan senjata langsung ke Ukraina. Trump bahkan menolak permintaan Zelensky untuk mendapatkan 300 rudal pencegat dalam pertemuan di Gedung Putih bulan lalu. Bola kini berada di tangan sekutu-sekutu Eropa.
Namun dari tujuh negara Eropa yang memiliki sistem Patriot, hanya tiga yang telah menyalurkan rudal tahun ini. Jerman memberi 35 rudal. Spanyol lima. Polandia, dilaporkan, juga lima. Jumlah totalnya bahkan tak sampai seperenam dari yang diminta Zelensky.
Jerman dan Spanyol, yang selama ini menjadi penyumbang utama pertahanan udara Ukraina, bungkam soal kapan mereka akan mengirim lebih banyak. Polandia, yang secara geografis paling dekat dengan medan perang, hanya mampu mengulurkan tangan setengah hati.
Pabrik yang Tak Mampu Berlari
Mengapa para donor tidak kunjung bergerak? Jawabannya sederhana namun rumit: rudal-rudal itu tidak ada di rak-rak gudang.
Kapasitas industri militer AS, yang menjadi pusat produksi PAC-3, tidak mampu mengejar permintaan yang melonjak. Proses produksinya rumit, rantai pasoknya rapuh. Dan di tengah persaingan dagang AS-Tiongkok, Beijing telah memberlakukan pembatasan ketat pada material penting seperti unsur tanah jarang dan tungsten — bahan yang sangat dibutuhkan untuk membuat rudal presisi.
Bulan lalu, Angkatan Darat AS mengumumkan rencana pemesanan 13.400 rudal PAC-3 baru senilai $53,9 miliar dari Lockheed Martin — sebuah angka yang menuntut perusahaan itu meningkatkan produksi tahunan hingga sembilan kali lipat. Namun hingga kini, tidak ada yang tahu bagaimana target itu akan dicapai. Pabrik-pabrik tidak bisa dipacu seperti mesin pencetak kertas.
Perang Matematika yang Tak Menguntungkan
Bahkan jika rudal-rudal itu tersedia, ada matematika kejam yang menghantui Ukraina. Rudal pencegat tidak bekerja sendiri — seringkali dibutuhkan beberapa pencegat untuk menjatuhkan satu rudal yang datang. Sementara satu rudal pencegat PAC-3 berharga sekitar $4 juta, satu rudal balistik Iskander buatan Rusia hanya sekitar $3 juta.
Artinya, Ukraina harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk bertahan daripada Rusia untuk menyerang. Rusia memproduksi hingga 840 rudal Iskander per tahun, ditambah 180 rudal hipersonik Kinzhal dan kuota produksi untuk rudal Tsirkon serta Oniks. Lockheed Martin, sementara itu, hanya mampu memproduksi 600 PAC-3 per tahun.
Dalam beberapa kesempatan, ketimpangan ini terbukti fatal. Rekaman video yang beredar dari tahun 2023 menunjukkan sebuah baterai Patriot Ukraina menembakkan 32 rudal pencegat ke arah satu rudal Rusia, namun gagal mencegat. Baterai itu akhirnya hancur oleh serangan rudal Kinzhal berikutnya.
Alternatif seperti PAC-2, rudal era Perang Dingin yang lebih tua, juga bukan solusi — rudal jenis itu dianggap tidak efektif menghadapi rudal balistik Rusia. Sistem Eropa seperti SAMP/T dan IRIS-T SL masih jauh dari memadai. Sementara rudal "buatan dalam negeri" Ukraina yang disebut Freya masih diragukan kualitasnya oleh para skeptis.
Musim Dingin yang Menanti
Kini, dengan musim dingin yang mendekat dan Rusia diprediksi akan kembali menargetkan infrastruktur energi Ukraina, pertanyaan besar menggantung di udara Kiev. Zelensky terus melanjutkan kampanye serangan jarak jauhnya meskipun sistem pertahanan udaranya nyaris kosong. Militer Ukraina bahkan berhenti memublikasikan angka pencegat, karena — seperti diakui Zelensky pada 1 Agustus lalu — dari 30 rudal Rusia yang datang, hanya satu yang berhasil dicegat, "semata-mata karena tidak adanya rudal pencegat untuk sistem Patriot."
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, berjanji sedang mengupayakan sistem pertahanan udara yang "sangat dibutuhkan" Ukraina. Namun kata-kata tidak bisa menciptakan rudal secara instan.
Di gudang-gudang para donor, rudal-rudal itu tetap terkunci. Dan di Kiev, Zelensky mungkin akan segera merasakan konsekuensi dari sebuah pelajaran pahit: bahwa kampanye pengaruh terbaik pun tidak akan berarti banyak ketika peluru yang dibutuhkan untuk bertahan hidup tidak kunjung tiba.
