Pakta Pertahanan Mekah Menjanjikan Solidaritas, Namun Kenyataan Bicara Lain
GTI-Mekah, 7 Agustus 2025-Tiga negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia Muslim menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama di kota suci Mekah. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menyatakan komitmen suci: serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dengan bangga menyamakannya dengan Pasal 5 NATO—pasal yang menjadi tulang punggung aliansi Atlantik Utara selama tujuh dekade.
Namun di balik retorika megah dan jabat tangan yang hangat, para analis militer dan diplomat melihat fondasi yang rapuh. Perbandingan dengan NATO runtuh begitu slogan bertemu dengan mekanisme nyata di lapangan.
Janji di Atas Kertas
Fakta pertama yang mencurigakan: teks lengkap perjanjian tidak pernah dipublikasikan. Yang diketahui hanyalah kerangka umum—tanpa komando bersama, tanpa pasukan yang ditugaskan, tanpa mekanisme respons otomatis yang jelas. Fidan sendiri mengakui bahwa anggota akan memutuskan "tingkat, bentuk, dan format" dukungan melalui konsultasi setelah serangan terjadi. Aturan operasional masih menunggu pertemuan menteri pertama yang belum dijadwalkan.
"Ini bukan perjanjian pertahanan; ini pernyataan niat," ujar seorang analis keamanan Timur Tengah yang enggan disebut namanya. "NATO memiliki struktur permanen, markas besar di Brussel, komandan tertinggi, dan ribuan personel yang bekerja setiap hari. Pakta Mekah belum memiliki sekretariat pun."
Musuh yang Berbeda Arah
Masalah paling mendasar: ketiga negara tidak memiliki musuh bersama. Pakistan, dengan sejarah konflik panjangnya, memfokuskan perhatian militer pada India. Namun Arab Saudi justru memperluas investasi, energi, dan kerja sama pertahanan dengan New Delhi. Riyadh memiliki kepentingan strategis yang berbeda—Iran dan Yaman menjadi front utamanya.
Turki, anggota NATO yang setia, justru memiliki perselisihan paling berbahaya dengan Yunani—sesama anggota aliansi Atlantik. Ironisnya, pasukan Yunani mengoperasikan baterai Patriot yang melindungi situs energi Arab Saudi. Bayangkan: dalam skenario konflik Turki-Yunani, Riyadh harus memilih antara mitra pakta barunya atau keamanan fasilitas minyaknya sendiri.
Rekam Jejak yang Berbicara
Sejarah menunjukkan bahwa solidaritas ini lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bilateral dengan Pakistan pada tahun 2025. Namun ketika kerajaan tersebut diserang tahun ini, Islamabad tidak mengirim satu pun tentara untuk membantu. Lebih memalukan lagi, pada tahun 2015, parlemen Pakistan secara tegas menolak permintaan Riyadh untuk mengirim kapal, pesawat, dan pasukan ke Yaman.
Dilema Turki
Ankara kini berada dalam posisi yang rumit. Pasal 8 NATO secara eksplisit melarang komitmen yang bertentangan dengan Perjanjian Atlantik Utara. Jika Riyadh secara terang-terangan menyerang Yunani, klausul pertahanan Mekah seharusnya tidak berlaku. Namun jika kedua belah pihak mengklaim membela diri—yang selalu terjadi dalam konflik—Athena akan menggunakan Pasal 5 NATO, sementara Riyadh memanggil Pakistan dan Turki melalui Pakta Mekah. Ankara harus memilih, dan tidak ada aturan yang dipublikasikan untuk menyelesaikan konflik kepentingan ini.
Pelajaran dari NATO
Bahkan NATO sendiri, dengan infrastruktur yang jauh lebih matang, menghadapi keraguan publik yang signifikan. Jajak pendapat YouGov tahun 2025 menunjukkan hanya 18–39 persen responden di Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia yang mengharapkan Washington membela negara-negara Baltik dari invasi Rusia. Komando terpadu dan latihan militer puluhan tahun pun tidak dapat menghilangkan kenyataan bahwa keputusan perang selalu berada di tangan ibu kota masing-masing.
Pakta Mekah mengimpor ambiguitas yang sama—tanpa infrastruktur yang membuat ambiguitas itu bisa dikelola. Sekretariatnya, mekanisme komando, latihan militer bersama, dan integrasi pertahanan udara masih berupa rencana di atas kertas. Pakistan, yang memiliki senjata nuklir, belum memperluas payung nuklirnya kepada anggota lain. Para pejabat Islamabad mengatakan senjata atom "tidak ada dalam radar" perjanjian ini.
Harapan di Balik Skeptisisme
Terlepas dari kelemahan strukturalnya, pakta ini tetap memiliki potensi. Pakta ini dapat menyalurkan uang Saudi untuk membeli senjata Turki, membiayai penempatan pasukan Pakistan, dan mengoordinasikan latihan militer bersama. Kerja sama intelijen dan transfer teknologi dapat berjalan tanpa memerlukan pasal-pasal pertahanan kolektif yang muluk.
Namun pertahanan kolektif sejati dimulai ketika satu ibu kota harus bersedia berperang demi musuh bebuyutan ibu kota lainnya. Pakistan telah menolak untuk berperang demi Arab Saudi. Riyadh memiliki sedikit alasan untuk mengorbankan kemitraannya yang menguntungkan dengan India—musuh bebuyutan Pakistan. Dan Turki tidak dapat menghapus kewajiban NATO-nya hanya dengan menandatangani dokumen di tanah suci.
Tiga pemerintahan menandatangani kalimat yang sama. Namun hingga hari ini, mereka masih memiliki rencana perang yang berbeda. Perjanjian ini meski terkesan gagah di media dan memiliki nilai simbolis yang kuat, menghadapi tantangan struktural yang signifikan, namun dalam implementasinya sebagai aliansi pertahanan kolektif, masih jauh dari efektif dan operasional.
Tidak hanya kendala tehnis pada wilayah operasi militer, namun ketiadaan musuh bersama menjadi kekuatan rawan yang akan dimanipulasi oleh US dan Israel, untuk menghancurkan fron perlawanan pimpinan Iran. Pakta pertahanan ini lebih pada bagian strategi lebih lanjut dari tarik ulur diplomasi yang gagal di inisiasi oleh Pakistan. Jikapun pakta ini akan membawa dampak operasional, ketiga ini negara akan sulit membantu NATO mengalahkan Iran. Karena kelemahan basis dukungan moral-politik dari ketiga negara ini yang harus melawan aspirasi rakyatnya sendiri mendukung Palestina melawan Israel.
