BARA DALAM SUNYI, DUKA DI UJUNG ANGIN

Oleh Muhammad Ma’ruf

GTI-Sembilan belas tahun yang lalu, ingatan itu bermula dari debu-debu jalanan di tanah Iran. Jejak kaki saya kemudian merambah jauh, melintasi batas-batas geografis yang sarat gejolak: Irak, Libanon, Mesir, Jordan, Oman, Arab Saudi, Suriah, Pakistan hingga ke tanah Gaza yang tak pernah lelah menangis. Di bawah langit Timur Tengah, saya menyaksikan bagaimana bayang-bayang pengaruh Iran menjulur kuat, menopang nadi-nadi perlawanan di Irak, Libanon, dan Suriah—sebuah negeri yang meski sempat tiarap paska-dikuasai Jolani dan Israel, sejatinya tetap menyimpan bara kekuatan yang diam-diam menyala dalam sunyi.

Sebelum tahun 2020 mengunci dunia, Iran telah menjadi rumah kedua bagi pikiran saya, kini Rusia dan berikut China cukup mempesona pikiranku. Dua hingga tiga kali dalam setahun, di sela-sela kepungan tugas kuliah doktoral, saya selalu kembali ke Tehran. Ada satu obsesi yang merayap di kepala, sebuah hasrat intelektual untuk membedah hakikat kekuasaan. Saya ingin menakar bagaimana seorang presiden menggerakkan dan membimbing roda Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif. Saya ingin mengintip rahasia di balik layar: apakah di Teheran maupun di Washington sana, ada "invisible hand" yang sama, yang mengatur pasang surutnya permintaan dan penawaran dalam pasar ekonomi sekaligus panggung politik?

Namun, lebih dari sekadar teori politik, rasa penasaran saya tertambat pada sosok Wali Faqih. Bagaimanakah satu jiwa mampu memegang kendali tertinggi atas Angkatan Darat, Laut, Udara, bahkan hingga Antariksa? Bagaimana ia membimbing media dan mengarahkan institusi pendidikan tanpa harus menjadi tangan besi yang otoriter, membimbing bangsanya melewati badai perang delapan tahun di keroyok kekuatan barat dan timur.  Membimbing kedamaian dibawah sanksi ekonomi, yang harus produktif dan mandiri? Bagi saya, potensi kepemimpinan Wali Faqih adalah sebuah teka-teki besar—sebuah magnet multipolar yang menantang dominasi unipolar yang selama ini dicengkeram oleh Amerika Serikat.

Penantian yang Berakhir di Ujung Angin

Menjelang lembar-lembar akhir kuliah saya selesai, sebuah permohonan diajukan: saya ingin bertemu langsung dengan Seyyed Ali Khamenei, sang pemimpin tertinggi.

Kata protokoler saat itu begitu singkat, namun menggantungkan harapan: “Tunggu.”

Maka saya pun menunggu. Hari berganti bulan, dan bulan melarut dalam tahun. Hingga akhirnya, kalender berdarah itu berhenti pada 28 Februari 2026. Tidak ada lagi kabar pertemuan. Yang datang justru adalah kabar duka yang menyanyat langit: Seyyed Ali Khamenei telah dibunuh di tengah-tengah berlangsungnya sebuah negosiasi. Sepasang tangan besi—Trump dan Netanyahu—telah merenggut nyawanya dengan pengecut.

Seketika itu juga, dada saya dihinggapi sesal yang teramat sunyi. Saya belum pernah sekalipun bertatap muka dengan orang baik ini.

Salah Hitung di Atas Altar Sejarah

Para pembunuh itu barangkali mengira skenario mereka akan berjalan mulus. Mereka membayangkan akhir hidup sang Ayatollah akan serupa dengan nasib tragis Khadafi di Libya atau Saddam Husein di Irak. Namun, Trump dan Netanyahu benar-benar telah salah berhitung.

Tragedi ini justru menjadi cermin retak yang mengonfirmasi sebuah kebenaran pahit: bahwa puncak dari tatanan liberal barat pro HAM dan demokrasi yang diagungkan itu sama sekali tidak terhormat, dan jauh dari kata abadi sebagaimana optimisme yang dulu digelorakan oleh Francis Fukuyama. Wajah asli dari tata kelola liberalisme rupanya adalah kediktatoran, kolonialisme, dan imperialisme gaya baru. Persis seperti apa yang didengungkan dalam pidato Rubio—sebuah upaya paksa untuk menyeret kembali dunia ke era kolonialisme masa lalu melalui Doktrin Monroe atau Doktrin Donroe (Trump).

Wajah imperialisme barat yang tamak ini sebenarnya bukan hal baru bagi bumi Nusantara. Dahulu, Sukarno telah mencium aroma busuk itu. Sang Proklamator dengan tegas menolak sistem multipartai yang dikontrol oleh para pemodal serakah dan kaum oligarki-kapitalis. Sebuah selera berpolitik mahal yang meniru US,  seolah satu satunya doktrin, jalan menuju kemakmuran, entah bagaimana, masih coba dirawat oleh sebagian masyarakat Indonesia hingga detik ini.

Yang Wafat dan Yang Menjelma

Hari ini, Trump dan Netanyahu mungkin masih bernapas di atas bumi. Namun di belahan bumi yang lain, Seyyed Ali Khamenei, meski raganya telah tiada, justru mengalami proses "menjelma".

Kematiannya tidak mengubur idenya; ia justru meniupkan ruh baru dan menghidupkan nurani 10 hingga 20 juta pelayat yang tumpah ruah di jalanan, serta jutaan jiwa lainnya di seluruh dunia. Lautan manusia yang menangis itu adalah sebuah maklumat tanpa kata: bahwa kematian sang pemimpin kaum tertindas justru melahirkan sejuta harapan baru.

Harapan untuk tegaknya hukum internasional yang sejati, dan sebuah tekad bersama untuk menaklukkan hukum rimba ala Trump yang selama ini mencengkeram dunia dengan keangkuhan. Di Teheran, angin berhembus membawa aroma duka, namun di dalamnya, ada kepalan tangan yang bersiap melanjutkan perjalanan.

Politik Kemartiran

Seyyed Ali Khameini adalah wali faqih ke dua, setelah Imam Khomeini, keduanya motor dan navigator sistem wilayatul Faqih yang mentransendentalkan kinerja triaspolitika Montesquieu. Rahasianya di iman dan kepercayaan pada rakyat yang tertindas.

Tubuh mayat Seyyed Ali Khameini (2026) akan di arak jutaan orang sebagaimana Imam Khomeini (1979). Tanpa Seyyed Ali Khameini yang patuh pada nilai revolusi yang di gariskan Imam Khomeini, Iran akan mudah di taklukkan secara militer dalam hitungan hari oleh US-Israel. Tanpa dua orang sufi ini, rudal berpresisi tinggi, aneka rudal hypersonik, drone syahid, dan capaian teknologi lain tidak akan ada. Selama kelompok reformis Iran meski bisa di kontrol oleh sihir zionis, tetap akan kembali ke trek revolusi selama sistem wilayatul faqih dan wali faqih eksis.

Seyyed Ali Khomeni memang kapabel dan sistemnya kompatebel dalam menavigasi sanksi menjadi kesempatan emas meruntuhkan imperium USA. Dia tahu dan punya kematangan program  bahwa memerdekaan Palestina artinya harus mampu menaklukkan NATO yang menopang Israel. Membebaskan dunia Islam dari cengkeraman pangkalan USA adalah satu nafas dengan memerdekaan Palestina. Program ini juga akan bertuah-memudahkan China dan Russia dalam gerak Multipolarnya.

Operasi janji ke empat seorang seniman politik agung ini sudah tertunaikan. Janji seorang Imam yang cerdas, yang rendah hati, yang lembut, yang berani dan ksatria seperti nabi Muhammad dan para imam syiah. Janji seorang wali, perwakilan kekuasaan kaum tertindas di dunia. Janjinya, lewat pertunjukkan tarian rudal yang cantik yang membully Iron Dome, David Sling, Arrow 2, 3, Patriot yang menghibur sayatan duka orang-orang Gaza yang di genosida, yang tidak bisa di tolong oleh PBB dan negara-negara nuklir.

Layatan Agung

Kini langit Iran melengkung abu-abu, seolah ikut memikul beban duka yang teramat luhur. Di sudut-sudut kota yang biasanya bising oleh deru kehidupan, kini hanya terdengar bisik doa dan langkah kaki yang berduyun-duyun. Negeri itu sedang menyelenggarakan salah satu perjumpaan terakhir terbesar dalam sejarah modernnya—sebuah perpisahan yang memanggil jutaan pelayat dari seluruh penjuru bumi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Revolusi Islam yang telah gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Kematian tidak pernah memilih waktu, namun ia selalu meninggalkan gaung yang panjang. Melalui upacara perpisahan nasional yang membentang selama beberapa hari, duka ini tidak hanya milik satu kota. Ia mengalir membelah batas negara, singgah di tanah-tanah suci Irak yang sarat sejarah, merayap khidmat di Najaf dan Karbala. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk melepas seorang pemimpin, melainkan meratapi sebuah tragedi kemanusiaan yang getir: gugurnya sang Ayatollah bersama empat anggota keluarga tercintanya dalam sebuah serangan udara pengecut pada akhir Februari yang lalu.

Kehilangan ini terasa begitu menyayat ketika nama-nama mereka dieja satu demi satu dalam keheningan. Di sana ada Dr. Mesbah al-Hoda Bagheri Kani sang menantu; Seyyedeh Boshra Hosseini Khamenei, sang putri sulung yang mendekap rindu; Zahra Haddad Adel, istri dari Pemimpin Revolusi Islam saat ini, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei; dan yang paling memilukan, seorang cucu perempuan kecil yang baru berusia 14 bulan, Zahra Mohmadi Golpayegani. Bayi mungil yang belum sempat mengeja dunia, kini harus ikut bersemayam dalam keabadian sejarah.

Air Mata di Lima Kota

Bagi para pejabat dan diplomat, upacara ini adalah sebuah peristiwa nasional dan internasional layatan yang kedua setelah Imam Khomeini—sebuah refleksi nyata dari kedudukan politik, agama, dan spiritual sang Ayatollah yang mengakar kuat di dunia Muslim. Namun bagi jutaan orang biasa yang turun ke jalan, ini adalah urusan hati.

Gairah duka itu memuncak tepat pada tanggal 3 Juli. Lebih dari 45 perwakilan negara asing datang membawa karangan bunga dan simpati mendalam. Kota Teheran, Qom, Najaf, dan Karbala berubah menjadi lautan manusia yang bergerak dalam ritme yang sama. Puncaknya, iring-iringan panjang ini akan melangkah menuju Mashhad, tempat peristirahatan terakhir di makam suci Imam Reza (AS), Imam Syiah kedelapan. Di sanalah, di tanah yang disucikan, sang Pemimpin dan keluarganya akan didekap oleh bumi.

Lebih dari 100 negara mengirimkan utusan, tokoh agama, dan pejabat tingginya. Ribuan jurnalis dari berbagai belahan dunia mencoba mengabadikan momen ini lewat lensa kamera mereka. Namun, kamera terbaik pun tak akan mampu menangkap seluruh kedalaman rasa sakit yang bergelora di dada jutaan warga Iran yang hadir.

"Seseorang Harus Bangkit"

Di tengah atmosfer yang sarat kesedihan, ada sebuah manifesto yang membakar semangat. Di bawah kepungan bendera setengah tiang dan pakaian serba hitam, sebuah slogan digemakan dengan lantang: "Seseorang Harus Bangkit."

Slogan ini bukan sekadar kalimat penghias, melainkan sebuah ikrar. Bersamaan dengan itu, kepalan tangan yang diadopsi sebagai lambang resmi peringatan selama seminggu ini terus mengacung ke udara—simbol bahwa keteguhan tidak ikut terkubur bersama jasad yang gugur.

Untuk memberikan ruang bagi air mata dan penghormatan ini, roda waktu seolah dihentikan sejenak. Pihak berwenang menetapkan hari libur nasional di Teheran, Qom, dan Mashhad. Seluruh elemen logistik, keamanan, transportasi, hingga tim medis dikerahkan secara ekstensif demi menjaga jutaan jiwa yang datang dengan hati terluka.

Iran kini sedang menenun sejarah barunya meruntuhkan imperium USA, membantu BRICS mewujudkan dunia Multipolar yang lebih revolusioner. Di antara isak tangis dan kepalan tangan yang tegap, mereka mengantar kepergian sang Pemimpin menuju peristirahatan terakhir—sebuah perjalanan sunyi, namun suaranya akan terus menggema melintasi zaman. Ketika kekuatan si mazlum (tertindas) berhasil mengalahkan si penindas (super power), kekuatan yang baru itu akan setara. Jadilah musuh para penindas, jadilah teman yang di tindas !!!. Jadikan negaramu musuh para penindas dan teman yang tertindas. Sebuah filsafat politik negara yang kelewat berat, bagi yang asing dengan revolusi.