DIPLOMASI BEBAS-AKTIF BERBASIS MULTIPOLAR DAN ANTI KOLONIALISME-NAZISME

GTI-Kamis, 5/11/2025, Global Thinkers Institute-GTI, telah menyelenggarakan seminar geopolitik “Neokolonialisme dan Neonazisme; Tantangan Dunia Multipolar Negara-Negara Selatan (Global South) dan ASEAN, ” di Auditorium Mulyono Sudirman, Fakultas Kedokteran UPNVJ, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

 

Pertanyaan urgenya, kenapa GTI mengangkat tema ini dan apa hasilnya ?.  Ada beberapa poin;

 

Pertama, Tata Kelola Unipolar yang dibangun US-Barat sejak perang dunia kedua hingga masa di bawah pemerintahan Donal Trump sekarang berusaha untuk mengembalikan gaya neokolonialisme tradisional berbarengan dengan pembangkitan neonazisme. Langkah ini disengaja untuk membingungkan dunia, akan tetapi mengalami “back fire”.

 

US bersama Uni Soviet pernah bersama sama melawan Nazisme Hitler pada masa perang dunia kedua. Bagaimana mungkin US, Eropa Barat yang pernah melawan dan menjadi korban Nazi mendukung Ukraina dan gerakan Neonazisme melawan Federasi Rusia sekarang.

 

Pemanfaatan neonazisme dengan dalih melawan kolonialisme Rusia adalah langkah pragmatis dan merusak bangunan moral PBB dan hukum internasional yang anti terhadap neonaziisme dan neokolonisme (non agresi).

 

Kedua, pemanfaatan neonazisme oleh pihak Unipolar-kolonial tidak jauh berbeda dengan dukungan proxi terhadap ISIS, kelompok-kelompok radikal bersifat mana suka (pramatisme ekstrim).

 

Ketiga, global south dan ASEAN yang pernah menjadi korban neokolonialisme perlu memperkuat kekuatan Multipolar, mewapadai gangguan keamanan yang diakibatkan oleh gerakan neonazime.

 

Keempat, ideologi neokolonialisme dan neonazisme memiliki esensi yang sama. Berbasis pada legitimasi supremasi ras dan kelas, cenderung memaksa dan ekpansif, bertentangaan dengan semangat multipolar; setara, bermartabat dan berdaulat.

 

Kelima, Indonesia yang menjadi bagian dari ASEAN dan global south secara historis tidak bisa menghapus gagasan kolonialisme dan secara konstitusional memiliki mandat menghapus kolonialisme sebagai kekuatan yang melandasi diplomasi perdamaian (pro-peace but strong).

 

Keenam, hasil diskusi dari para pembicara seminar mengarah pada pendapat bahwa “anti kolonialisme” menjadi spirit diplomasi bebas aktif Indonesia berbasis Multipolar, menjadi spirit memperkuat kedaulatan militer, budaya, informasi, intelektual dan politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *