Oleh, Muhammad Ma’ruf
Apakah Pakta Badr merupakan simbol pakta ketahanan industri militer dunia Islam? Ataukah ini merupakan kelanjutan dari paket pakta yang dipersiapkan menjelang serangan darat AS-Israel-negara Teluk untuk mengkoloni Iran? Kita masih ingat Pakta BOP yang ditandatangani pada 22 Januari 2026 menjelang serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
GTI-Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo memiliki kebijakan utama: ketahanan pangan dan energi, berdikari secara ekonomi, serta mempraktikkan Pasal 33 melalui program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan luar negeri di awal kepemimpinan Prabowo, melalui pidatonya yang berapi-api, mempromosikan diri sebagai juru damai dunia dan mengingatkan akan bahaya kolonialisasi. Indonesia masuk menjadi anggota BRICS dengan visi multipolar untuk menjaga ketergantungan dari kelompok globalis yang mempertahankan visi hegemoni-unipolar.
Tiga perjanjian penting telah ditandatangani sebagai manifestasi kebijakan luar negeri Indonesia. Pertama, BOP (Board of Peace) pada 22 Januari 2026. Kedua, ART (Agreement on Reciprocal Trade) pada 19 Februari 2026. Ketiga, pada 21 Oktober 2026 di Doha, Qatar, Indonesia juga menandatangani Pakta Badr (Badr Memorandum of Understanding/MoU Badr).
Sebelumnya, pada 7 Agustus 2026, ditandatangani Pakta Mekkah (Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah/Mecca Joint Defence Agreement) tanpa keikutsertaan Indonesia.
Catatan yang Mengerikan
Indonesia ikut menandatangani BOP dengan maksud rekonstruksi Gaza pada 22 Januari 2026. Namun hasilnya, pada Februari 2026, AS-Israel dan negara Teluk melakukan agresi militer ke Iran yang telah mendukung Palestina sejak 1979. Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Singkatnya, BOP tidak ada hubungannya dengan rekonstruksi Gaza, apalagi kemerdekaan Palestina. BOP justru berhubungan secara langsung dengan penormalan genosida Gaza yang terus berlangsung dan menjadi prakondisi serangan militer AS-Israel ke Iran. Anggota BOP, termasuk Indonesia, tidak ada yang mengecam Trump-Netanyahu sebagai tindakan pelanggaran hukum internasional.
Hasil dari ART yang ditandatangani oleh Indonesia bukan menguntungkan secara ekonomi, melainkan menjadi alat legal AS untuk mengeksploitasi ekonomi dan bahkan mengancam kedaulatan keamanan warga Indonesia.
Begitu juga setelah Pakta Mekkah ditandatangani, langsung dipakai untuk mendukung Arab Saudi secara militer melawan Houthi-Yaman yang terbukti mendukung Palestina. Houthi-Yaman terbukti telah melakukan aksi demonstrasi besar-besaran setiap minggu mendukung Palestina, menyampaikan aspirasi tegas dengan slogan "Matilah AS, matilah Israel, matilah Yahudi-Israel." Houthi-Yaman juga terbukti membantu menghentikan genosida Gaza, mendisrupsi ekonomi Israel, menyerang kapal-kapal dagang menuju Israel, dan menyerang langsung ke wilayah Israel.
Pakta Mekkah didesain dengan cita rasa Islam untuk menghindari cita rasa NATO Barat. Dibuat dengan prinsip Pertahanan Kolektif: agresi militer pada salah satu negara penandatangan dikategorikan sebagai ancaman bagi ketiganya, menyerupai prinsip Pasal 5 NATO. Pakta Mekkah dibuat pada saat kondisi stok rudal NATO menipis.
Apa yang Akan Terjadi ?
Kita fokus pada Pakta Badr. Sebagaimana tersebar di media, maksud Pakta Badr ditandatangani adalah untuk kepentingan riset, pengembangan, latihan perang, dan rantai pasok global yang tampak baik dan netral—sebagaimana BOP ditandatangani untuk rekonstruksi Gaza.
Benarkah Badr Memorandum of Understanding—kesepakatan kerja sama strategis di bidang militer dan industri pertahanan yang ditandatangani oleh Indonesia, Turkiye, Qatar, dan Pakistan pada 21 Oktober 2026 di Doha, Qatar—akan berjalan sebagaimana maksud ditandatanganinya?
Jawabannya tidak. Secara kronologis, Pakta Badr akan mengalami nasib sama dengan BOP, ART, dan Pakta Mekkah: akan menjadi kepanjangan tangan kepentingan AS-Israel.
Apa urgensinya bagi Indonesia yang berjarak sekitar 7.300–8.100 km menandatangani Pakta Badr? Benarkah Pakistan dan Turki memiliki industri militer lebih hebat dari AS, Israel, dan Iran yang akan menguntungkan Indonesia? Bukankah industri militer Iran mampu membuat alutsista yang dapat menaklukkan produk industri NATO? Kenapa tidak membuat Pakta Badr dengan Iran?
Ada beberapa alasan bahwa Pakta Badr untuk kepentingan Israel:
-Terjadi hubungan keanggotaan yang linier; sebagian negara yang ikut menandatangani Pakta Badr juga merupakan anggota BOP dan Pakta Mekkah. Negara anggota rentan dijadikan tameng dan dieksploitasi sesuai kepentingan AS-Israel.
-Turki adalah negara NATO. Selama genosida warga Gaza oleh AS-Israel, Turki terlibat aktif berkontribusi mengirimkan minyak dari Azerbaijan via Turki menuju Israel.
-Erdogan-Turki dan Jolani-Suriah terlibat dalam pengondisian pendudukan Israel di dataran tinggi Golan. Pada masa Assad dan ayahnya, pendudukan dataran tinggi Golan Suriah oleh Israel selalu dapat digagalkan.
-Pakistan terlibat aktif dalam pengondisian AS-Israel menyerang Iran dengan tameng perjanjian perdamaian. Pakistan berkontribusi membuat Iran lengah sehingga dapat diserang oleh AS-Israel pada masa negosiasi.
-Qatar terlibat secara aktif sebagai tuan rumah dan donatur agresi militer AS-Israel terhadap Iran hingga sekarang.
Pakta Badr untuk Apa ?
Benar bahwa Pakta Badr ditandatangani untuk kepentingan kerja sama industri militer para anggota. Tapi kita harus ingat, pakta ini lahir menjelang ancaman serangan darat dan penjatuhan mother of bombs oleh AS-Israel di tanah Iran. Pakta ini dibuat saat rudal pencegat dan serang NATO-AS-Israel terkuras hampir habis.
Pakta Badr ditandatangani oleh Indonesia (diwakili Wakil Menteri Pertahanan Yusuf Jauhari), Turkiye (diwakili Menteri Pertahanan Nasional Yasar Guler dan Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Haluk Gorgun), Qatar (diwakili Wakil Perdana Menteri dan Menteri Negara Urusan Pertahanan Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani), dan Pakistan (diwakili Menteri Pertahanan Khawaja Muhammad Asif).
Pakta ini dibuat menjelang serangan darat AS-Israel ke Iran, sebagaimana BOP dibuat menjelang serangan AS-Israel ke Iran pada ronde pertama, 28 Februari 2026. Qatar sebagai penandatangan Pakta Badr akan dijadikan tempat serangan rudal militer AS-Israel ke Iran. Turki-Erdogan dengan pasukan regulernya, ditambah pasukan Jolani-ISIS-Suriah, sudah di-deploy di Yaman untuk bertugas menghabisi kelompok perlawanan Houthi-Yaman-Iran pro-Palestina.
Pakta Badr dan Kehancuran Identitas NKRI
Tidak berlebihan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa mimpi kerja sama riset dan pengembangan industri pertahanan antaranggota Pakta Badr adalah kesalahan strategis bagi Indonesia.
Pertama, Turki sebagai anggota NATO yang akan dijadikan pusat industri pertahanan akan merugikan industri dalam negeri Indonesia dan menguntungkan industri NATO-AS-Israel sebagai pemasok senjata yang terkuras habis melawan Iran. Produk-produk alutsista Pakta Badr akan mengisi kelangkaan alutsista NATO di Timur Tengah, yang secara strategis akan dipakai AS-Israel menyerang Iran yang berbatasan dengan Turki.
Kedua, Qatar akan menjadi kasir bagi pendanaan industri Pakta Badr dan NATO Timur Tengah.
Ketiga, Pakistan akan menjadi kepanjangan tangan diplomasi AS-Israel siapa pun penguasanya. Penampilan diplomasi Pakistan akan semakin intens mengunjungi Iran untuk memecah dan membuat Iran lengah, hingga pada saat tak terduga Trump-Netanyahu akan menyerang Iran.
Keempat, dengan BOP dan Pakta Badr, Pemerintahan Indonesia di bawah Prabowo akan semakin asing dengan konstitusinya sendiri yang memiliki mandat menjaga perdamaian, mengenyahkan penjajahan, dan mendukung Palestina.
BOP, Pakta Mekkah, dan Pakta Badr adalah paket narasi kolonialisme di Timur Tengah yang secara militer terlibat aktif menghabisi kelompok perlawanan pro-Palestina. Selain itu, khususnya industri pertahanan Indonesia akan terpuruk karena alutsista dan doktrin perang dunia kedua AS-Israel dan NATO telah teruji kegagalannya melawan industri swasembada dalam negeri Iran.
Kesalahan strategis berikutnya bagi Prabowo: program ketahanan pangan dan energi, MBG, dan KDMP akan hancur bersamaan dengan konflik dengan kubu Jokowi dan Sembilan Naga, dibarengi dengan pemberontakan rakyat sipil pro-Palestina di seluruh dunia melawan penguasa pro-kolonial dan Epstein File.
Dengan berbalut isu domestik dan dukungan pada Palestina, para penguasa negara-negara penandatangan Pakta Badr, Pakta Mekkah, BOP—Prancis, Jerman, Italia, Azerbaijan, Albania, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan lain-lain—akan berhadapan dengan rakyatnya sendiri.
Para penguasa, termasuk Indonesia yang dijerat dengan BOP, ART, dan Pakta Badr, akan berhadapan dengan rakyatnya sendiri yang setia pada Palestina. Sementara kubu Netanyahu-Trump membutuhkan kekacauan, adu domba, dan perang besar untuk menjalankan agenda Israel Raya.
BOP, Pakta Mekkah, dan Pakta Badr dipakai oleh Netanyahu untuk menjalankan misi Israel Raya: mengadu domba antarnegaranegara Muslim untuk bertempur hingga kelelahan dan teritorinya terpecah belah. Saat terpecah belah dan lemah, Israel akan menduduki Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania, Arab Saudi, dan Irak.
Bukan tidak mungkin bendera Merah Putih Indonesia bersama bendera kolonial Bintang Daud Israel dan AS akan tenggelam memalukan. Identitas Indonesia bukan lagi berkontribusi mengenyahkan penjajahan sebagaimana Pembukaan Konstitusi Indonesia, melainkan terlibat aktif mempertahankan dan memperluas imperium kolonialisme-liberal pada fase terakhir Israel Raya.
