MEARSHEIMER; TIDAK ADA JALAN KELUAR, PERANG UKRAINA

John Mearsheimer membahas perang Ukraina, diplomasi Trump, warisan peristiwa 9/11, dan pergeseran global dari unipolaritas menuju multipolaritas.

GTI-Ilmuwan politik Amerika, John Mearsheimer, menyatakan bahwa konflik Ukraina tidak dapat diselesaikan secara diplomatik karena tujuan kedua belah pihak tidak dapat dipertemukan, dan pada akhirnya konflik ini akan diselesaikan di medan perang.

Mearsheimer menyampaikan hal tersebut saat berkunjung ke Moskow dalam sebuah wawancara dengan Fyodor Lukyanov, ketua Presidium Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan serta pemimpin redaksi “Russia in Global Affairs”.

Fyodor Lukyanov: John, seandainya mesin waktu membawa diplomat hebat seperti Metternich dan Talleyrand ke masa kini, apa yang akan mereka lakukan untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengakhiri konflik saat ini? Apakah mereka akan berhasil?

John Mearsheimer: Yah, mereka jelas merupakan diplomat yang cakap. Dan jika kita berbicara tentang perang Ukraina-Rusia, mereka pasti akan berupaya keras untuk menyelesaikannya. Namun, menurut saya, mereka tidak akan mampu melakukannya. Saya tidak yakin perang tersebut—perang Ukraina—bisa diselesaikan secara diplomatik. Saya berpendapat bahwa penyelesaiannya akan terjadi di medan perang.

Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, mengapa saya berpendapat bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan secara diplomatis? Alasannya adalah karena tujuan Rusia tidak dapat diterima oleh Ukraina, dan tujuan Ukraina tidak dapat diterima oleh Rusia. Sebagai contoh, Ukraina menginginkan wilayah yang telah dianeksasi oleh Rusia dikembalikan kepada mereka.

Ukraina memandang Donbas, Zaporizhzhia, dan Kherson sebagai wilayah yang sakral. Dari sudut pandang Ukraina, sama sekali tidak dapat diterima jika Rusia dibiarkan menganeksasi wilayah tersebut. Selain itu, mengingat apa yang telah terjadi, Ukraina menginginkan jaminan keamanan—baik dari NATO maupun Amerika Serikat—untuk melindungi mereka di masa depan.

Hal ini tidak dapat diterima oleh pihak Rusia. Begitu pula, melepaskan wilayah yang telah mereka aneksasi merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh Rusia. Lantas, bagaimana mungkin tercapai kesepakatan diplomatik antara kedua belah pihak ketika terdapat perbedaan yang begitu tajam? Ukraina sama sekali tidak bersedia melepas keempat oblast tersebut serta Krimea yang telah dianeksasi oleh Rusia.

Di sisi lain, Rusia tidak bersedia membiarkan Ukraina mendapatkan kembali wilayah tersebut. Selain itu, Ukraina menginginkan jaminan keamanan dari Barat. Mereka ingin menjadi bagian dari NATO—sebuah keinginan yang dapat dipahami dari sudut pandang Ukraina. Namun, Rusia jelas tidak menginginkan Ukraina bergabung dengan NATO. Hal itulah yang menjadi penyebab utama pecahnya perang ini sejak awal. Jadi, terlihat jelas bahwa Rusia dan Ukraina memiliki perbedaan pandangan yang sangat tajam mengenai isu-isu krusial di mana kedua belah pihak sama-sama enggan berkompromi.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana cara mencapai solusi diplomatik? Jawabannya: tidak ada cara untuk mencapainya. Konflik ini akan diselesaikan di medan perang, dan penyelesaian akhirnya akan ditentukan oleh pihak mana yang memenangkan perang tersebut.

Fyodor Lukyanov: Baiklah, lantas seperti apa sebenarnya wujud kemenangan itu? Apakah memenangkan perang berarti melenyapkan Ukraina sepenuhnya?

John Mearsheimer: Menurut saya, pihak Rusia tidak akan melenyapkan Ukraina. Saya rasa hal itu hampir mustahil. Menurut hemat saya, langkah yang akan diambil Rusia adalah mencaplok sebagian besar wilayah Ukraina. Mereka mungkin sudah menguasai sekitar 20% wilayah, dan saya kira pada akhirnya mereka akan berusaha mengambil lebih banyak lagi wilayah Ukraina. Namun, mereka tidak akan menaklukkan seluruh Ukraina.

Lebih jauh lagi, setelah perang ini usai, Ukraina akan menjadi negara sisa yang disfungsional. Rusia memiliki kepentingan besar untuk memastikan Ukraina tetap menjadi negara sisa yang disfungsional, agar negara itu tidak bisa bergabung dengan NATO dan tidak menjadi ancaman bagi Rusia. Jadi, menurut saya, pada akhirnya situasi ini akan berujung pada konflik beku, yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan situasi di Korea.

Ukraina tidak akan pernah menerima gagasan bahwa Rusia telah menaklukkan seluruh wilayah ini. Baik Ukraina maupun negara-negara Eropa [Barat] tidak akan menerima status quo yang baru ini. Mereka akan berupaya kembali ke batas-batas wilayah yang ada sebelum tahun 2014.

Di sisi lain, Rusia tentu ingin memastikan hal itu tidak terjadi, karena mereka dihantui ketakutan bahwa Ukraina akan menjadi bagian dari Barat dan berubah menjadi benteng pertahanan Barat tepat di perbatasan Rusia. Jadi, begitu konflik ini membeku, Rusia akan memiliki kepentingan mendalam untuk memastikan Ukraina tetap menjadi negara sisa yang disfungsional.

Inilah salah satu alasan mengapa menurut saya Rusia kemungkinan besar akan mencoba merebut Odessa dan mengambil alih wilayah pesisir Laut Hitam dari Ukraina; mereka memandang langkah ini sebagai cara penting untuk melemahkan Ukraina di masa depan. Sekali lagi, Rusia memiliki kepentingan besar untuk melemahkan Ukraina.

Sementara itu, dari sudut pandang Ukraina, sangatlah masuk akal untuk menganggap Rusia sebagai ancaman eksistensial, mengharapkan bantuan Barat dalam menghadapi Rusia, serta berupaya merebut kembali wilayah mereka yang sakral. Saya sepenuhnya memahami pola pikir Ukraina, namun hal tersebut tidak dapat diterima oleh Rusia. Jadi, ketika kedua pihak yang berkonflik—yakni Rusia di satu sisi, serta Ukraina yang dibantu Eropa di sisi lain—memiliki perbedaan pandangan yang tidak dapat dipertemukan, maka tidak ada jalan keluar secara diplomatik.

Fyodor Lukyanov: Apakah itu berarti semua upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Trump, Kushner, Witkoff, dan pihak-pihak lainnya hanyalah buang-buang waktu?

John Mearsheimer: Menurut saya, pada dasarnya itu benar. Maksud saya, terkait pemerintahan Trump, penting untuk ditekankan bahwa Presiden Trump sendiri memiliki naluri yang tepat. Dia ingin mengakhiri perang—perang Ukraina—dan dia ingin membangun hubungan yang baik antara Amerika Serikat dan Rusia. Tidak diragukan lagi bahwa nalurinya tepat dalam masalah ini.

Namun, ada dua masalah. Pertama adalah masalah struktural yang baru saja saya jelaskan kepada Anda, yaitu fakta bahwa pihak-pihak yang bertikai memiliki tujuan yang tidak dapat dipertemukan. Itu poin pertama. Poin kedua adalah bahwa Presiden Trump merupakan negosiator yang tidak cakap atau buruk. Ia memandang dirinya sebagai sosok yang brilian dalam mencapai kesepakatan, dan ia merasa bisa dengan mudah menghentikan konflik Ukraina-Rusia—setidaknya dalam benaknya sendiri.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Ia adalah diplomat yang kikuk dan tidak cakap; akibat ketidakcakapannya itu, ia bahkan sama sekali tidak mendekati keberhasilan untuk menghentikan perang ini.

Fyodor Lukyanov: Kita baru saja memperingati 25 tahun peristiwa serangan 11 September. Jika menengok kembali ke masa itu setelah seperempat abad berlalu, bagaimana Anda menilai signifikansi peristiwa tersebut dari perspektif politik kekuatan besar (“great-power politics”)?

John Mearsheimer: Yah, peristiwa 9/11 itu tidak ada kaitannya dengan politik kekuatan besar. Sangat penting untuk memahami hal ini. Peristiwa 9/11 terjadi pada masa unipolar, ketika Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan besar di dunia; saat itu tidak ada politik kekuatan besar karena tidak adanya kekuatan besar tandingan yang bisa saling bersaing.

Terkait peristiwa 9/11, sebuah kelompok kecil bernama Al-Qaeda—yang membenci kebijakan AS di Timur Tengah—menemukan cara untuk menyerang Amerika Serikat dan menimbulkan kerusakan parah. Hal ini kemudian memicu Amerika Serikat untuk melancarkan perang global melawan teror, yang berujung pada serangkaian "perang tanpa akhir" yang melibatkan kita, khususnya di Afghanistan dan Irak. Kedua perang tersebut merupakan bencana. Respons kita terhadap 9/11 sangat keliru. Tidak ada perlunya melancarkan perang global melawan teror. Kita justru menjerumuskan diri ke dalam masalah yang lebih besar.

Namun, hal itu tidak ada kaitannya dengan politik kekuatan besar (great power politics).

Fyodor Lukyanov: Bisakah momen tersebut dianggap sebagai awal dari berakhirnya dunia unipolar, sebagaimana pendapat sebagian pihak?

John Mearsheimer: Menurut saya, argumen itu bisa saja dikemukakan. Saya berpendapat bahwa tahun 1990-an adalah masa kejayaan momen unipolar. Namun, kondisi Rusia sangat terpuruk selama tahun 1990-an. Ingatlah bahwa Putin mulai berkuasa sekitar tahun 2000, bukan? Putin naik takhta pada akhir tahun 1999. Saya meyakini bahwa Putin berhasil membangkitkan kembali Rusia dari keterpurukan.

Akan tetapi, sepanjang tahun 1990-an, Rusia sangat lemah. Tiongkok pun belum mengalami pertumbuhan signifikan hingga tahun 2001. Faktanya, baru pada tahun 2001 Tiongkok bergabung dengan WTO. Begitu bergabung dengan WTO, pertumbuhan ekonomi Tiongkok benar-benar melesat.

Jadi, kita bisa melihat bahwa sepanjang tahun 1990-an hingga sekitar tahun 2001 atau 2002, Amerika Serikat merupakan negara yang sangat kuat. Momen unipolar itu—terlepas dari peristiwa 9/11—tampaknya berjalan dengan sangat baik. Namun, setelah 9/11, keadaan cenderung memburuk dengan cukup cepat. Menurut saya, peristiwa paling krusial di sini adalah krisis keuangan tahun 2008, yang memberikan dampak sangat buruk bagi Amerika Serikat. Kemudian, menjelang tahun 2017, Rusia telah bangkit kembali, dan menurut saya Putin telah menciptakan situasi di mana Rusia sekali lagi menjadi kekuatan besar pada masa itu. Pada saat yang sama, Tiongkok juga telah menjadi kekuatan besar sekitar tahun 2017. Jadi, di sekitar tahun 2017 itulah terjadi peralihan dari unipolaritas menuju multipolaritas.

Dan itu adalah perubahan mendasar yang telah mengubah politik internasional secara drastis. Amerika Serikat jauh lebih leluasa untuk melakukan intervensi di seluruh dunia selama masa unipolar karena tidak adanya pesaing kekuatan besar, dan negara itu bebas melibatkan diri dalam berbagai masalah di tempat-tempat seperti Afghanistan dan Irak.

Namun kemudian muncullah multipolaritas, dan kini hal utama yang harus dikhawatirkan Amerika Serikat adalah kekuatan-kekuatan besar yang menjadi saingannya.

Fyodor Lukyanov: Mengapa Anda secara khusus menyoroti tahun 2017? Sepanjang pengamatan saya, tidak ada peristiwa yang benar-benar signifikan terjadi pada tahun itu. Pada tahun 2014 ada peristiwa Krimea; pada tahun 2015, Suriah. Jadi, mengapa tahun 2017?

John Mearsheimer: Nah, hal yang menjadi perhatian saya adalah keseimbangan kekuatan. Pertanyaannya adalah, jika kita melihat Rusia pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, negara itu hampir tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Militernya benar-benar hancur. Namun, apa yang terlihat pada sekitar tahun 2015, 2016, dan 2017 adalah bahwa militer Rusia jauh lebih efektif dibandingkan satu setengah dekade sebelumnya.

Dan menurut saya, hal ini sebagian besar merupakan buah kerja keras Putin. Saya rasa Putin telah berupaya keras untuk memulihkan perekonomian Rusia. Seiring dengan bangkitnya perekonomian Rusia, mereka mampu mengubah sebagian besar kekuatan ekonomi tersebut menjadi kekuatan militer.

Jadi, menjelang tahun 2016-2017, sebagian besar penilaian dari lembaga seperti RAND Corporation mengenai militer Rusia menyatakan bahwa kekuatan militer Rusia kini cukup tangguh. Tentu saja, kekuatan Rusia pada tahun 2017 tidaklah sebesar kekuatan Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Namun, militer Rusia pada tahun 2017—dan hal ini tentu berlaku juga bagi militer Tiongkok—tampak sebagai instrumen kekuatan yang cukup tangguh. Inti argumen saya adalah, jika kita berbicara mengenai transisi dari unipolaritas menuju multipolaritas, pada dasarnya kita sedang mempertanyakan kapan negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia menjadi kekuatan besar.

Bagi saya, kekuatan besar adalah negara yang memiliki kekuatan militer yang memadai untuk memberikan perlawanan sengit terhadap negara paling kuat dalam sistem tersebut. Dan tentu saja, negara itu adalah Amerika Serikat. Sekali lagi, menurut saya pada tahun 2017, sebagian besar analis keamanan di Amerika Serikat meyakini bahwa militer Rusia merupakan instrumen yang sangat tangguh dan berada pada posisi yang kuat untuk memberikan perlawanan serius terhadap Amerika Serikat.

Mengingat adanya kekuatan militer tersebut—yaitu pemulihan kekuatan militer Rusia—saya rasa itulah dasar yang digunakan orang-orang untuk menyatakan bahwa Rusia sekali lagi menjadi kekuatan besar. Satu hal lagi yang perlu disampaikan: saya rasa semua pihak memahami bahwa Rusia—baik dulu maupun sekarang—merupakan yang terlemah di antara ketiga kekuatan besar tersebut.

Menurut saya, Amerika Serikat tetap menjadi negara paling kuat di dunia. Saya rasa Tiongkok kini berada di posisi kedua dengan selisih tipis. Dan menurut saya, ada risiko di masa depan bahwa Tiongkok bisa melampaui Amerika Serikat.

Saya juga berpendapat bahwa pihak Amerika—atau sebagian besar kalangan elite kebijakan luar negeri Amerika—sangat mengkhawatirkan kemungkinan tersebut. Jadi, dalam aspek yang sangat penting, Tiongkok-lah pesaing sepadan yang sesungguhnya, bukan Rusia.

Namun, Rusia tetaplah sebuah kekuatan besar; saya rasa semua orang mengakui hal itu. Menurut saya, itulah sebabnya Amerika Serikat begitu menaruh perhatian pada perang Ukraina. Alasan mengapa Presiden Trump tertarik untuk menghentikan atau mengakhiri perang Ukraina serta menjalin hubungan baik antara Rusia dan Amerika Serikat adalah karena Trump memahami bahwa Rusia merupakan kekuatan besar.

Dari sudut pandang Amerika, jauh lebih masuk akal bagi Amerika Serikat untuk bersekutu dengan Rusia guna menghadapi Tiongkok—atau setidaknya menjaga Rusia tetap netral—daripada menciptakan situasi di mana kita justru mendorong Rusia untuk merapat ke pihak Tiongkok.

Maksud saya, jika kita membayangkan hidup di dunia multipolar dengan tiga kekuatan besar, dan Anda adalah Amerika Serikat sementara pihak lainnya adalah Tiongkok, tentu Anda ingin Rusia berada di pihak Anda. Namun sebaliknya, akibat kebijakan kita yang keliru terkait Ukraina, kita justru telah mendorong Rusia untuk merapat ke pihak Tiongkok. Sekali lagi, menurut saya, naluri dasar Trump mengenai pentingnya mengakhiri perang Ukraina dan menjalin hubungan baik antara Rusia dan Amerika Serikat sebagian besar didorong oleh pandangan atau keyakinannya bahwa Tiongkok-lah ancaman sesungguhnya bagi Amerika Serikat.

Oleh Fyodor Lukyanov, pemimpin redaksi “Russia in Global Affairs”, ketua Presidium Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan, serta direktur penelitian Valdai International Discussion Club.