KETIKA KORPORASI MENGUASAI PANGGUNG EKONOMI AMERIKA

Tahun 2030, Amerika Serikat

GTI-Layar-layar di seluruh Manhattan memancarkan angka hijau yang memusingkan: laba korporasi Amerika mencapai 4,8 triliun dolar per tahun—18 persen dari pendapatan nasional, rekor tertinggi sejak era pasca-Perang Dunia II. Sementara itu, di jalan-jalan di bawahnya, pekerja yang baru pulang dari shift malam hanya bisa menatap layar itu sambil menghela napas. Gaji mereka tak bergerak, harga-harga merangkak naik, dan ekonomi hanya tumbuh 1,5 persen—lesu, tapi dinding kaca gedung-gedung pencakar langit tetap memantulkan kemewahan.

Di lantai 70 sebuah gedung di Midtown, rapat dewan direksi sebuah perusahaan teknologi berlangsung meriah. CEO menyampaikan kabar baik: laba kuartalan naik 20 persen berkat kecerdasan buatan yang mengotomatisasi separuh tenaga kerja mereka. Saham naik, bonus para eksekutif bertambah, dan program pembelian kembali saham senilai 8 miliar dolar disetujui dalam hitungan menit. Tak ada yang mempertanyakan mengapa gaji karyawan pabrik di Texas hanya naik 3 persen dalam tiga tahun terakhir.

Di luar, di sebuah apartemen kecil di Queens, Maria—seorang ibu tunggal dengan dua anak—membuka surat dari pemerintah. Manfaat makanannya dipangkas. Bantuan medisnya juga akan berakhir bulan depan. Ia bekerja 50 jam seminggu di gudang logistik, tetapi upah riilnya turun 2 persen dibanding tahun lalu. "Mereka bilang ekonomi sedang booming," katanya kepada tetangga. "Tapi booming untuk siapa?"

Data tak berbohong: 10 persen orang terkaya memiliki 87 persen saham pasar modal. Separuh populasi hanya memiliki 1,1 persen. Di perusahaan-perusahaan S&P 500, CEO mendapat 614 kali lipat gaji karyawan median. Upah pekerja naik 20,7 persen sejak 2019, tetapi harga-harga naik 25,9 persen. Sementara itu, serikat pekerja—satu-satunya alat tawar pekerja—terus menyusut: hanya 10 persen pekerja yang terorganisir, dibanding 20,1 persen pada 1983.

Di Washington, para politisi masih berdebat tentang pajak dan regulasi. Namun, di balik layar, kebijakan terus mengalir ke arah yang sama: pemotongan pajak korporasi, pengurangan manfaat sosial, dan perlindungan bagi pemegang saham. Kantor Anggaran Kongres telah memperingatkan bahwa rumah tangga miskin akan kehilangan sumber daya hingga 900 miliar dolar selama dekade berikutnya—terutama dari pemangkasan Medicaid dan bantuan pangan.

Tahun 2030, ketika sejarawan menulis tentang era ini, mereka mungkin menyebutnya "The Great Divergence". Sebuah era di mana laba korporasi mencapai rekor tertinggi, tetapi pekerja kehilangan daya beli. Di mana pasar saham melambung tinggi, tetapi satu dari lima anak-anak Amerika hidup di bawah garis kemiskinan. Di mana CEO merayakan pembelian kembali saham senilai miliaran dolar, sementara para pekerja menabung kupon makanan mereka.

Dan ketika malam tiba di Amerika, layar-layar digital itu tetap menyala. Angka-angka hijau terus berkedip, seolah tak pernah peduli pada jutaan orang yang menatapnya dari bawah—dengan perut kosong dan harapan yang semakin tipis.