GAJAH DI ATAS PAPAN CATUR; KETIKA FIDE MEMILIH POLITIK DAN MENINGGALKAN KELUARGA BESARNYA

GTI- Rusia kembali dipinggirkan dari Olimpiade Catur. Di balik keputusan kontroversial, ada perang dingin yang membelah "satu keluarga" catur dunia—dan para legenda mulai angkat bicara.

Papan catur dunia tengah menjadi medan pertempuran yang tidak biasa. Bukan tentang langkah “fork” atau “checkmate”, melainkan tentang kursi kekuasaan, sanksi politik, dan sebuah pertanyaan besar: apakah olahraga masih menjadi milik para pemain, atau telah direnggut oleh kepentingan segelintir orang?

Federasi Catur Internasional (FIDE) baru saja menjatuhkan palu: Rusia tetap dilarang tampil sebagai tim di Olimpiade Catur ke-46 di Samarkand, Uzbekistan, pada 16-27 September mendatang. Padahal, Belarus—yang bersama Rusia ikut disanksi pada 2022—telah dicabut seluruh pembatasannya bulan lalu. Keputusan yang terasa pahit ini langsung memicu reaksi beruntun, dengan tuduhan yang lebih tajam dari sekadar kekecewaan: Rusofobia.

"Kita Adalah Satu Keluarga," Benarkah ?

Semboyan FIDE, "Gens Una Sumus" atau "Kita adalah satu keluarga," kini terdengar seperti ironi yang menusuk. Aleksandr Tkachev, kepala Federasi Catur Rusia, melontarkan kritik pedas kepada TASS pada hari Senin. Ia menuding anggota Dewan FIDE telah "mendahulukan kepentingan pribadi" dan membiarkan politik meracuni arena olahraga.

"Ada orang-orang yang lebih mengutamakan permainan daripada politik dan tidak mengkhawatirkan karier mereka sendiri. Namun, ada pula orang-orang yang lebih mementingkan kepentingan pribadi—dan saat ini mereka mendominasi Dewan. Kali ini, merekalah yang menang," ujarnya dengan nada getir.

Tkachev bahkan menyebut dalang di balik layar: Viswanathan Anand, penjabat Presiden FIDE yang berasal dari India dan baru mengambil alih posisi tersebut bulan lalu. Anand menggantikan Arkady Dvorkovich asal Rusia yang terpaksa mundur setelah dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa. Sebuah pergeseran kekuasaan yang, bagi Tkachev, menjadi momentum bagi kepentingan politik untuk bergerak.

Legenda Legenda Berang: "Kepemimpinan FIDE Tak Terkendali"

Jika Tkachev berbicara sebagai fungsionaris, maka kata-kata Anatoly Karpov datang dengan bobot sejarah. Legenda hidup catur dunia dan juara dunia ke-12 itu tidak main-main dalam menilai sikap FIDE. Dengan tegas, Karpov menyebut keputusan tersebut sebagai "Russofobia."

"Hanya ada satu penjelasan untuk keputusan ini—pimpinan FIDE sudah tidak terkendali. Keputusan-keputusan yang diambil bersifat Russofobia," ujar Karpov kepada TASS. "Mari berharap situasinya akan berubah setelah pemilihan pada bulan September."

Pernyataan Karpov semakin menegaskan bahwa bursa kepemimpinan FIDE adalah sekaligus pertarungan ideologi. Ia merujuk pada pemilihan presiden FIDE yang akan digelar di Samarkand pada 26-27 September, bertepatan dengan babak final Olimpiade Catur. Momen yang sangat simbolis: di panggung yang sama di mana tim Rusia dilarang tampil, nasib lima tahun ke depan federasi akan ditentukan.

Suara keras lainnya datang dari Kirsan Ilyumzhinov, mantan Presiden FIDE yang pernah memimpin federasi selama 23 tahun. Ia mengaku "malu" atas keputusan tersebut. Menurutnya, olahraga seharusnya menjadi rumah netral bagi persaingan, bukan ladang gurun bagi polemik.

Absen Tiga Kali: Rusia di Antara Dua Bendera

Keputusan ini bukan hal yang mengejutkan bagi pengamat politik olahraga. Rusia tercatat akan melewatkan Olimpiade Catur tatap muka untuk ketiga kalinya berturut-turut—sebelumnya absen di Chennai 2022 dan Budapest 2024. Namun, yang menarik adalah kontradiksi yang diciptakan oleh FIDE sendiri.

Meski tim dilarang, para pemain individu Rusia tetap diizinkan tampil di bawah bendera FIDE. Mereka tetap bersinar di kancah internasional. Terakhir, pada kejuaraan catur cepat (rapid) dan kilat (blitz) Asia di Hong Kong bulan lalu, para pemain Rusia membawa pulang empat medali: satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Prestasi tersebut membuktikan bahwa talenta mereka tak bisa dibungkam oleh veto politik, namun tetap saja, pengakuan kolektif sebagai "tim nasional" masih menjadi sebuah hak yang terus diperjuangkan.

Tantangan Bagi Masa Depan FIDE

Keputusan Dewan FIDE ini mengirimkan sinyal kuat tentang arah baru federasi—arah yang lebih berani menegaskan posisi geopolitik, meski meninggalkan luka di antara para penggemar dan pelaku catur Rusia. Semboyan "kita satu keluarga" kini tampak seperti “icing” di atas kue yang sudah retak.

Pertanyaannya sekarang: apakah Samarkand akan menjadi saksi pembusukan hubungan antara FIDE dan “keluarga” terbesarnya, sekaligus menjadi awal dari babak baru yang lebih menegaskan bahwa catur adalah olahraga universal yang tidak terikat oleh peta politik dunia? Atau, justru sebaliknya, obsesi politik akan mengubah papan catur menjadi panggung diplomasi yang lebih kejam daripada sebelumnya?

Satu hal yang pasti: di tanggal 26 September nanti, dunia akan mencari tahu apakah “raja” baru FIDE akan mampu menyatukan keluarga yang sedang cerai ini—atau justru menguburnya lebih dalam.