Oleh Muhammad Ma'ruf
Di tengah rapuhnya politik dan aneka rudal menuju tata kelola dunia baru, tradisi-tradisi ini adalah bukti bahwa perlawanan tak pernah mati—ia hanya berganti pakaian, dari pedang menjadi tarian rudal, dari darah menjadi air mata yang makin puitik, dari operasi peperangan kuda menjadi operasi janji sejati, dari Seyyed Husein di Karbala yang terpenggal kepalanya jadi Seyyed Ali Khameini yang di bom dengan penghancur bunker (bunker buster munitions) di Tehran.
Ketika Perjanjian Masih Menggantung di Ujung Pedang
GTI-Di tengah rapuhnya notas kesepakatan antara Amerika dan Iran—yang ditandatangani Trump dan Masoud Pezeshkian pada 17/6 secara digital—batas antara perang dan damai masih kabur bagai fatamorgana di padang gurun. Namun saat bulan Asyura tiba, tradisi-tradisi tua tetap menyala di seantero Iran, tak peduli usia, tak peduli zaman.
Mereka larut dalam drama kepedihan masa lalu yang menjadi mata rantai seni pertunjukan perlawanan yang indah—dari 680 Masehi hingga era si kuning Trump, Muawiyah modern tahun 2026.
Nakhl-Gardani, Gel-Mali, Tarash-e Abbas, Chok-Choko, Bil-Zani, Shakhsey-Vakhsey, Chelchela, Ta'zieh Tafresh, dan "Vahed"—semuanya masih terawat, bagai permata yang tak pernah pudar.
Di Setiap Jengkal Negeri, Ada Bahasa Duka yang Berbeda
Setiap tahun, selama bulan Muharram, jutaan jiwa di seluruh Iran berkumpul untuk mengenang kesyahidan Imam Husain AS, Imam ketiga kaum Muslim Syiah, bersama para sahabat setianya yang gugur dalam Pertempuran Karbala tahun 680 Masehi.
Namun peringatan Muharram tahunan di Iran bukanlah sekadar tradisi seragam yang monoton. Jauh melampaui prosesi, spanduk hitam, dan hentakan genderang yang kerap menjadi simbol musim berkabung, tradisi ini menjelma menjadi mozaik budaya yang kaya dan memesona.
Di seluruh penjuru negeri—dari kota-kota besar hingga desa-desa terpencil—komunitas-komunitas telah mengembangkan ritual berkabung khas mereka sendiri selama berabad-abad, memadukan kesalehan religius dengan adat istiadat lokal dan warisan budaya.
Beberapa upacara, seperti ritual "Nakhl-Gardani" yang termasyhur di Yazd, telah meraih pengakuan internasional dan setiap tahun menarik pengunjung dari seluruh dunia. Sementara yang lain, bagaikan permata tersembunyi dalam lanskap spiritual dan budaya Iran yang kaya, nyaris tidak dikenal di luar komunitas yang telah melestarikannya secara turun-temurun.
Gel-Mali: Ketika Lumpur Menjadi Bahasa Duka
Salah satu tradisi Muharram yang paling memukau secara visual di Iran adalah "Gel-Mali"—ritual pengolesan lumpur yang dipraktikkan di sebagian wilayah barat Iran, terutama di provinsi Lorestan, Kermanshah, dan Ilam, serta di beberapa daerah di Khuzestan, Markazi, dan Hamedan.
Pada hari-hari menjelang Asyura, para pelayat menyiapkan lubang tanah liat besar yang diisi dengan lumpur lembut. Pada hari Asyura, tanggal sepuluh Muharram, para peserta menutupi seluruh tubuh dan pakaian mereka dengan lumpur sebelum bergabung dalam prosesi, upacara dada, dan ratapan yang memperingati tragedi Karbala.
Bagi para peserta, ritual ini melambangkan kesedihan yang mendalam dan kerendahan hati dalam menghadapi kesyahidan Imam Husain AS. Diselimuti lumpur, para pelayat mewujudkan keadaan berkabung dan duka cita, mengekspresikan solidaritas mereka dengan penderitaan yang dialami oleh Sang Imam, keluarganya, dan para sahabatnya.
Di Khorramabad dan sekitarnya, tradisi ini dimulai beberapa hari sebelumnya dengan upacara yang dikenal sebagai "Tarash-e Abbas" (Cukur Abbas). Dalam ritual ini, para pelayat mandi, berdandan, dan mengenakan pakaian bersih sebagai tindakan simbolis persiapan spiritual dan fisik untuk hari-hari berkabung yang akan datang.
Sebagai bagian dari persiapan, para peserta juga mengumpulkan kayu bakar dari rumah-rumah warga untuk membuat api unggun besar komunal. Api ini memiliki tujuan praktis dan simbolis: memberikan kehangatan bagi para pelayat setelah ritual lumpur, terutama di tahun-tahun yang lebih dingin, sekaligus memperkuat semangat kolektif dan partisipasi komunal.
Chok-Choko: Simfoni Batu dari Negeri Fars
Di antara tradisi Muharram yang paling khas di Iran adalah upacara "Chok-Choko", yang dipraktikkan di kota Estahban di provinsi Fars serta di beberapa wilayah lain di negeri ini.
Selama ritual, para pelayat berkumpul dalam lingkaran besar dan bergerak dalam irama yang tersinkronisasi sambil membenturkan dua batu—atau, dalam beberapa kasus, potongan kayu yang dibuat khusus—bersamaan dengan syair dan nyanyian duka.
Suara yang dihasilkan menciptakan atmosfer khidmat dan kuat yang membedakan upacara ini dari bentuk-bentuk peringatan Muharram yang lebih umum.
Menurut tradisi setempat, "Chok-Choko" melambangkan akibat tragis dari Pertempuran Karbala, khususnya penginjakkan jenazah para syuhada oleh kuda-kuda pasukan Yazid setelah pertempuran berakhir. Melalui gerakan terkoordinasi dan hentakan ritmis mereka, para peserta berupaya membangkitkan kesedihan dan kepedihan yang terkait dengan salah satu episode paling menyakitkan dalam sejarah.
Dipimpin oleh seorang pembaca syair duka, para pelayat mengangkat batu di atas kepala mereka, membenturkannya bersama, membungkuk, dan mengulangi gerakan tersebut dalam langkah maju dan mundur yang disinkronkan dengan cermat.
Dengan sejarah yang membentang hampir dua abad, upacara "Chok-Choko" telah menjadi simbol abadi duka Muharram di wilayah tersebut. Signifikansi budaya dan historisnya juga telah memberinya pengakuan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda nasional Iran, membantu melestarikan tradisi ini untuk generasi mendatang.
Bil-Zani: Sekop sebagai Simbol Kesetiaan
Tradisi unik Muharram lainnya adalah "Bil-Zani", sebuah upacara berkabung berusia berabad-abad yang dipraktikkan di Kabupaten Khusf di provinsi Khorasan Selatan.
Berakar sejak sekitar 200 hingga 250 tahun yang lalu, ritual ini menggabungkan gerakan simbolis, duka yang berpusat pada komunitas, dan pengenangan sejarah dalam ekspresi bakti yang khas kepada Imam Husain AS.
Pada hari Asyura, para pelayat berkumpul sambil membawa sekop pertanian, yang secara lokal dikenal sebagai "bil". Membentuk lingkaran besar, para peserta bergerak serempak, mengangkat sekop ke arah langit sebelum melompat ke udara dan membenturkan bilah logam bersama-sama sambil meneriakkan nama Imam Ali AS dengan seruan "Heydar Ali."
Benturan logam yang ritmis menciptakan suara kuat dan bergema yang bergema sepanjang upacara, memperkuat atmosfer duka yang khidmat.
Menurut tradisi setempat, ritual ini memperingati suku Bani Asad, yang anggotanya menguburkan para syuhada Karbala beberapa hari setelah pertempuran. Sekop yang dibawa oleh para peserta melambangkan alat-alat yang digunakan dalam tugas suci itu, mengubah alat pertanian biasa menjadi simbol kesetiaan dan kenangan yang kuat.
Bersama dengan prosesi "Bil-Zani", para pelayat juga membawa struktur pemakaman simbolis yang dikenal sebagai "Nakhl", yang mewakili iring-iringan jenazah Imam Husain AS dan putra bayinya, Ali Asghar, yang gugur di Karbala.
Melalui kombinasinya antara ingatan sejarah, citra simbolis, dan partisipasi kolektif, "Bil-Zani" tetap menjadi salah satu peringatan Muharram yang paling khas di Iran timur, melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Shakhsey-Vakhsey: Gema Kesetiaan dari Barat Laut Iran
Salah satu tradisi Muharram yang paling dikenal di barat laut Iran adalah upacara "Shakhsey-Vakhsey", yang dikenal secara lokal dengan nama Turki Azarbaijani dan dipraktikkan secara luas di seluruh wilayah tersebut selama bulan Muharram, khususnya pada Asyura.
Ritual ini dimulai beberapa hari sebelum awal Muharram dan berlanjut hingga Asyura, secara bertahap meningkat intensitasnya seiring peringatan Karbala mencapai puncaknya. Selama upacara, peserta membentuk barisan panjang, meletakkan tangan mereka di bahu atau punggung orang yang berdiri di depan mereka, menciptakan rantai terpadu para pelayat yang bergerak sebagai satu tubuh.
Memegang tongkat upacara, para pelayat secara ritmis mengangkat dan menurunkannya dari tanah ke arah kepala mereka sambil meneriakkan frasa "Shakhsey" (Shah Husain) dan "Vakhsey" (Celaka Husain).
Gerakan tersinkronisasi, diiringi oleh teriakan kolektif, menciptakan atmosfer khidmat dan sangat emosional yang bergema di seluruh kota dan lingkungan.
Menurut tradisi setempat, ritual ini secara simbolis menghidupkan kembali mobilisasi para pendukung Imam Husain AS sebelum Pertempuran Karbala, membangkitkan semangat kesetiaan, pengorbanan, dan kesiapan yang mendefinisikan para sahabat Imam.
Diwariskan secara turun-temurun, "Shakhsey-Vakhsey" tetap menjadi salah satu bentuk duka Muharram yang paling abadi dan paling khas secara visual di barat laut Iran, mencerminkan warisan budaya wilayah tersebut dan keterikatan mendalamnya pada kenangan Karbala.
Chelchela: Cahaya Harapan di Tengah Duka
Di antara tradisi Muharram Iran yang kurang dikenal namun sarat makna simbolis adalah ritual "Chelchela", sebuah upacara kuno yang dipraktikkan di kota Mojan, dekat Shahroud di provinsi Semnan, Iran tengah. Dilestarikan secara turun-temurun, ritual duka ini telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya takbenda nasional Iran.
Upacara dimulai pada malam hari ketiga Muharram, ketika petugas menyiapkan balai duka setempat dan menata empat puluh kaki lilin dengan hati-hati—angka yang memiliki makna spiritual mendalam dalam banyak tradisi Islam.
Saat kegelapan turun, balai diterangi oleh cahaya lampu-lampu, menciptakan atmosfer khidmat untuk refleksi dan pengabdian.
Para sesepuh komunitas memimpin pertemuan dalam doa dan permohonan, sementara bagian-bagian dari "Ziyarat Ashura" dibacakan untuk mengenang Imam Husain AS dan para syuhada Karbala.
Bagian paling khas dari ritual ini terjadi pada akhirnya. Para peserta mengedarkan lampu-lampu yang menyala dari tangan ke tangan, dengan lembut menciumnya sebagai tanda penghormatan dan pengabdian. Selama tindakan ini, doa dipanjatkan untuk orang sakit, yang telah meninggal, dan mereka yang menghadapi kesulitan, mengubah upacara menjadi peringatan Karbala dan ekspresi harapan, kenangan, dan solidaritas spiritual kolektif.
Ta'zieh Tafresh: Drama Suci dari Markazi
Kota Tafresh, di Provinsi Markazi, telah lama dianggap sebagai salah satu pusat "Ta'zieh" terkemuka di Iran—dramatisasi ulang tradisional peristiwa Karbala.
Selama beberapa generasi, bentuk seni ini telah menempati tempat sentral dalam peringatan Muharram di kota tersebut, melestarikan salah satu ekspresi paling khas dari prosesi budaya Syiah.
Setiap tahun selama bulan Muharram dan Safar, lebih dari dua puluh kelompok "Ta'zieh" menggelar pertunjukan di seluruh kota, menarik banyak pelayat.
Melalui kombinasi puisi, musik, dialog, dan panggung simbolis, para pemain menciptakan kembali momen-momen penting dari Pertempuran Karbala, menghidupkan keberanian, pengorbanan, dan penderitaan Imam Husain AS, keluarganya, dan para sahabat setianya.
Pertunjukan ini berfungsi sebagai tindakan peringatan dan pengabdian, memungkinkan penonton untuk terlibat secara emosional dengan peristiwa Karbala dan merenungkan nilai-nilai abadi keadilan, iman, dan perlawanan yang diwujudkan oleh pendirian Imam.
Di jantung tradisi "Ta'zieh" Tafresh berdiri "Zaghram Tekyeh" yang bersejarah, salah satu balai duka bata lumpur tertua di Iran. Dengan sejarahnya yang kaya dan arsitekturnya yang khas, tempat ini tetap menjadi titik fokus peringatan Muharram di wilayah tersebut, menjadi saksi hidup warisan abadi "Ta'zieh" dalam kehidupan religius dan budaya Iran.
Nakhl-Gardani: Mahkota Duka dari Yazd
Mungkin tradisi Muharram yang paling terkenal dan diakui secara internasional di Iran adalah "Nakhl-Gardani", sebuah ritual berusia berabad-abad yang terkait erat dengan provinsi Yazd dan setiap tahun menarik pengunjung, peneliti, dan peziarah dari seluruh dunia.
Di pusat upacara berdiri "Nakhl", sebuah struktur kayu raksasa yang secara simbolis mewakili usungan atau peti mati Imam Husain AS. Menjulang di atas para pelayat yang membawanya, struktur ini dihias dengan rumit menggunakan kain duka hitam, cermin, pedang, belati, kain warna-warni, dan berbagai ornamen, masing-masing membawa asosiasi simbolis dengan tragedi Karbala dan pengorbanan Imam serta para sahabatnya.
Persiapan dan dekorasi "Nakhl" sendiri merupakan usaha komunal, sering kali melibatkan seluruh lingkungan dan mencerminkan generasi tradisi lokal.
Setelah dirakit, struktur raksasa diangkat ke bahu ratusan pria yang menahan beban beratnya melalui jalan-jalan dan alun-alun publik dalam tampilan pengabdian dan kenangan kolektif yang kuat.
Pada hari Asyura, "Nakhl" diarak secara seremonial melalui kota, diiringi oleh nyanyian duka dan kerumunan besar penonton. Di banyak komunitas, struktur ini mengelilingi alun-alun pusat sebanyak tiga kali sebelum dikembalikan ke tempat peristirahatannya.
Di antara contoh "Nakhl-Gardani" yang paling mengesankan adalah yang ditemukan di kota Taft dan Ashkezar, di mana beberapa "Nakhl" terbesar di Iran terus menjadi titik fokus peringatan Muharram.
Vahed: Harmoni Duka dari Pesisir Bushehr
Di provinsi selatan Bushehr, bentuk duka Muharram yang khas yang dikenal sebagai "Vahed" telah berkembang selama satu abad terakhir, menjadi salah satu ekspresi pengabdian dan kenangan kolektif yang paling kuat di wilayah tersebut.
Upacara ini berpusat di sekitar seorang pemimpin pelantun, yang dikenal secara lokal sebagai "Pishkhan" (pembaca utama), yang berdiri di jantung pertemuan.
Mengelilinginya adalah lingkaran konsentris para pelayat, yang dikenal sebagai "Bor", yang gerakan dan responsnya membentuk irama dan intensitas emosional ritual.
Para peserta meletakkan tangan kiri mereka di pinggang orang yang berdiri di samping mereka, membentuk rantai terpadu para pelayat. Saat syair duka dibacakan, mereka secara ritmis memukul dada mereka dengan tangan kanan sambil bergerak dalam lingkaran terkoordinasi di sekitar pembaca utama.
Seiring berjalannya upacara, tempo pembacaan secara bertahap meningkat, menarik para peserta ke dalam keadaan yang semakin emosional. Klimaks tiba ketika "Pishkhan" tiba-tiba berseru "Vahed"—yang berarti "Satu." Seruan ini berfungsi sebagai sinyal kuat yang menyatukan pertemuan pada puncak emosionalnya, mendorong respons tersinkronisasi dari para pelayat.
Klimaks dramatis dari ritual ini, yang ditandai oleh harmoni suara, gerakan, dan hentakan dada, menciptakan salah satu tampilan duka Muharram yang paling mencolok dan sarat emosi di Iran selatan.
Grand Bazaar Tehran: Denyut Duka di Jantung Ibu Kota
Beberapa peringatan Muharram tertua dan paling otentik di Tehran berlangsung di dan sekitar Grand Bazaar bersejarah kota, sebuah distrik yang telah lama berfungsi sebagai pusat komersial dan pusat kehidupan religius dan sosial.
Selama Muharram, pasar yang ramai berubah menjadi ruang duka yang luas, di mana pertunjukan "Ta'zieh" tradisional, prosesi kuda, tenda simbolis, dan dramatisasi ulang peristiwa-peristiwa kunci dari Asyura menghidupkan kisah Karbala.
Gang-gang sempit dan halaman-halaman bersejarah bazaar menjadi latar bagi upacara-upacara yang telah dilestarikan secara turun-temurun.
Banyak dari peringatan ini diorganisir oleh serikat dagang Tehran, yang keterlibatannya dalam ritual Muharram sudah berusia lebih dari satu abad. Di antara yang tertua dan paling dihormati adalah prosesi yang diorganisir oleh pedagang tekstil Tehran, yang upacaranya telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bahasa Duka yang Tak Pernah Padam
Secara keseluruhan, tradisi-tradisi ini menggambarkan keragaman budaya yang luar biasa dari peringatan Muharram di seluruh Iran. Meskipun semuanya memperingati tragedi yang sama—kesyahidan Imam Husain AS dan para sahabatnya di Karbala—setiap wilayah telah mengembangkan bahasa dukanya sendiri yang khas.
Bahasa-bahasa duka ini, yang diukir oleh sejarah, budaya, dan spiritualitas, terus bergema dari generasi ke generasi, memastikan bahwa kenangan Karbala tetap hidup selamanya.
Di tengah rapuhnya politik dan aneka rudal menuju tata kelola dunia baru, tradisi-tradisi ini adalah bukti bahwa perlawanan tak pernah mati—ia hanya berganti pakaian, dari pedang menjadi tarian rudal, dari darah menjadi air mata yang makin puitik, dari operasi peperangan kuda menjadi operasi janji sejati, dari Seyyed Husein di Karbala yang terpenggal kepalanya jadi Seyyed Ali Khameini yang di bom dengan penghancur bunker (bunker buster munitions) di Tehran.
Dan di setiap hentakan batu, di setiap cipratan lumpur, di setiap nyala lilin yang diedarkan dari tangan ke tangan, Karbala terus berbicara: bahwa kebenaran, meskipun dikhianati, tak akan pernah benar-benar kalah. Justru kini tanda kemenangan makin tampak. Sebagaimana pesan geopolitik sang syahid Ali Khameini, yang terpahat di cincin terakhir, “bersama Allah”, dan kutipan dia dalam surat Annashr, ayat 1, idzâ jâ'a nashrullâhi wal-fat-ḫ, tentang janji kedatangan pertolongan Allah SWT dan kemenangan bagi agama Islam.
