DARI BAYANG-BAYANG EMBARGO KE LANGIT MANDIRI; PERJUANGAN CHINA MENGHIDUPKAN C919 DENGAN TEKNOLOGI LOKAL

Oleh Muhammad Ma’ruf

GTI-Di balik gemerlap landasan pacu bandara modern China, ada satu kisah yang jarang terlihat: bagaimana sebuah negara berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman rantai pasokan global. Ini bukan sekadar tentang pesawat jet. Ini tentang harga diri, ketahanan, dan taruhan besar bernama C919.

Zhang Yanzhong: Arsitek di Balik Kebangkitan Jet Penumpang China

Zhang Yanzhong, arsitek utama jet penumpang andalan China, pernah berdiri di depan para insinyur dan pejabat dengan wajah serius. Ia tidak bicara soal pencapaian, melainkan peringatan. "Kita bisa kehilangan akses ke rantai pasokan global kapan saja," katanya, suaranya laksana alarm yang menggema di ruang rapat. Ia lalu menggambar peta jalan: membangun rantai pasokan yang benar-benar independen, kebal terhadap embargo Barat.

Di balik kesuksesan pesawat jet penumpang andalan China, Comac C919, terdapat sosok senior yang tak kenal lelah: Zhang Yanzhong. Ia bukan sekadar akademisi, melainkan penasihat utama dan ahli teknik sistem dari Chinese Academy of Engineering (CAE) yang kini menjadi pilar utama program kedirgantaraan negeri Tirai Bambu.

Zhang dikenal vokal dalam mendorong kemandirian rantai pasok untuk pesawat komersial China. Menurutnya, kunci utama untuk bersaing dengan raksasa seperti Airbus A320 dan Boeing 737 bukan hanya pada desain, melainkan pada kemampuan untuk lepas dari ketergantungan terhadap komponen Barat.

Peran Strategis

Sebagai tokoh senior, Zhang memandu peta jalan teknis pengembangan C919. Ia juga menjadi garda terdepan dalam memastikan industri kedirgantaraan China tetap mandiri dan tahan terhadap potensi sanksi dari negara-negara Barat.

Lahir pada tahun 1940, pria ini mengawali karier gemilangnya dengan meraih gelar doktor dari Trinity College, Universitas Cambridge (Inggris) pada tahun 1984. Sepanjang hidupnya, ia pernah menjabat sebagai Kepala Insinyur di Kementerian Industri Penerbangan China dan Manajer Umum di China Aviation Industry Corporation II.

Kini, di usianya yang ke-80 tahun, Zhang Yanzhong tetap menjadi simbol ketangguhan dan visi panjang China dalam menaklukkan langit dunia.

Henti Sejenak di Langit

Beijing telah mengubahnya menjadi hukum yang mengikat, dan sejak Maret 2026, dekrit keamanan rantai pasokan menjadi pedang yang melindungi industri penerbangan dari segala ancaman luar.

C919 adalah kebanggaan China. Namun, di balik bentuknya yang ramping, pesawat ini menyimpan rahasia ketergantungan. Jantungnya masih bergantung pada mesin CFM International buatan AS-Prancis. Sistem avioniknya, dari Honeywell. Ketika Washington untuk sementara waktu memblokir ekspor komponen ini pada tahun 2025, COMAC (Commercial Aircraft Corporation of China) merasakan pukulan telak. Hanya 15 jet yang berhasil dikirimkan tahun lalu, nyaris setengah dari target yang sudah direvisi. Sanksi asing, ternyata, tidak hanya menyakitkan — ia mengganggu denyut nadi industri.

Mobilisasi Besar-Besaran: Bukan Lagi Sekadar Rencana

Tapi China bukan tipe yang mudah menyerah. Di balik kegagalan pengiriman, Beijing meluncurkan mobilisasi nasional. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) resmi mewajibkan perluasan produksi C919. Namun, yang lebih revolusioner adalah dekrit Maret 2026: perlindungan rantai pasokan kini mengikat secara hukum, bukan sekadar himbauan.

Strateginya terang benderang: percepat pengembangan mesin CJ-1000A buatan dalam negeri, serta bangun alternatif lokal untuk unit daya bantu, avionik, sistem kontrol penerbangan, dan sistem daya. Semua itu harus menggunakan chip dan perangkat lunak asli China.

Di belakang layar, model kerja sama berlapis mulai bekerja. COMAC dan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) — dua raksasa BUMN — kini memimpin orkestra yang terdiri dari ratusan perusahaan negara dan swasta lokal. Mereka adalah pasukan rahasia yang bekerja tanpa sorotan kamera, memastikan setiap komponen pesawat bisa lahir dari tangan anak bangsa.

Mesin Baru, Harapan Baru

Sementara itu, di hanggar rahasia di suatu tempat di China, mesin CJ-1000A sedang menjalani uji terbang yang ketat. Target sertifikasi? 2027. Peluncuran komersial? 2030. Jika berhasil, pembangkit tenaga buatan dalam negeri ini akan menjadi kunci yang membuka pintu menuju kemandirian total.

Memang, masih ada kendala produksi. Namun, COMAC optimistis: tahun ini mereka menargetkan pengiriman 28 jet baru. Angka yang lebih tinggi, tetapi tetap dibayangi ketidakpastian.

Apa Poinya ?

Tren ini bukan hanya soal pesawat. Ini soal bagaimana sebuah negara, yang pernah bergantung pada teknologi asing, sekarang bertaruh segalanya pada kemandirian. Sektor penerbangan China, dengan didukung penuh negara, sudah mempersiapkan skenario terburuk. Dan dengan setiap mesin CJ-1000A yang diuji, dengan setiap dekrit yang diteken, China mengirim pesan ke dunia: "Kami tidak akan terhenti oleh embargo. Kami akan terbang — dengan sayap kami sendiri."

Di langit, C919 bukan sekadar pesawat. Ia adalah pernyataan politik, lambang tekad, dan bukti bahwa ketika jalan menuju kemandirian terlihat mustahil, negara itu akan tetap melangkah — satu tes penerbangan, satu komponen lokal, satu dekrit pada satu waktu.